Thursday, 4 July 2019

AC Milan dan Sederet Pemainnya yang Lebih Baik Dijual di Bursa Transfer 2019

Skuat Milan di Musim Kompetisi Serie A 18/19 / sempremilan
Kompetisi sepakbola kasta tertinggi Italia (Serie A) musim 18/19 sudah resmi berakhir prematur. Juventus sudah bisa mengunci gelar juara ketika kompetisi baru berjalan di pekan ke-33. Sedangkan kompetisi secara resmi baru berakhir pada pekan ke-38. Terlebih lagi, Juventus sama sekali tidak tersetuh oleh tim-tim lain dalam perebutan posisi puncak, bahkan oleh Napoli, sang runner-up yang berselisih sampai 20 poin ketika gelar juara sudah dipastikan menjadi milik klub asal Kota Turin itu.
Tim-tim besar Serie A yang lain, seperti Inter, Milan, dan Roma, justru gagal memperlihatkan taji mereka sebagai tim besar, dan sebagai tim yang punya sejarah besar. Mereka justru nguplek sendiri dalam memperebutkan posisi ketiga dan keempat. Layaknya tim-tim semenjana pada umumnya, mereka sudah sangat “merasa accomplish sesuatu” saat berhasil memperoleh tiket Liga Champions di musim berikutnya.
Nasib lumayan mujur masih menaungi Inter. Mereka bisa finish di posisi empat besar, yang artinya mereka masih berhak memperoleh satu tiket ke Liga Champions musim depan. Naas bagi Milan dan Roma, yang justru harus tercecer ke posisi kelima dan keenam. Hal itu memupuskan harapan mereka untuk bisa berkompetisi di Liga Champions musim depan.
Justru Atalanta, tim medioker yang sama sekali tidak dipertimbangkan, yang secara mengejutkan bisa finish di posisi ketiga. Selain sukses membuat malu wajah Inter, Roma, dan Milan, hal itu membuat mereka berhak berkompetisi di Liga Chamipons untuk pertama kalinya di sepanjang sejarah klub.
Melihat hal itu tentu saja membuat saya cukup gusar. Apalagi melihat Milan (tim yang sudah saya ikuti sepak terjangnya beberapa tahun terakhir ini) yang lagi-lagi gagal untuk memenuhi harapan para fans-nya, yang hanya ingin melihat tim yang disukainya itu bisa berlaga lagi di kompetisi Liga Champions.
Para fans Milan pasti paham, bahwa klub itu sedang dalam masalah finansial yang cukup serius, disebabkan sudah melanggar Finansial Fair Play (FFP). Andai saja lolos ke Liga Champios, Milan sebenarnya secara otomatis berhak atas dana segar sekitar 800-an milyar sebagai hadiah kepada setiap tim yang mampu lolos ke bapak penyisihan grup Liga Champions.  
Dana sebanyak itu tentu saja akan sangat membantu Milan dalam usahanya menyeimbangkan neraca keuangan mereka yang masih defisit sampai saat ini.
---
Dengan berakhirnya musim kompetisi, jagat sepakbola selanjutnya diramaikan dengan bursa trasnfer pemain. Momen tersebut adalah waktu tepat bagi Milan untuk segera moved on dari masa-masa suramnya, dan yang paling penting segera pulih dari masalah finansial mereka.
Salah satu langkah yang paling lumrah dilakukan klub-klub yang tersandung masalah finansial tentu saja dengan memperoleh dana segar sebesar dan sesegera mungkin, serta menekan pengeluaran klub seefisien mungkin.
Lalu dari mana Milan bisa memperoleh dana segar dengan jumlah yang relatif besar? 

Dari penjualan para pemainnya. Dan di posisi sekarang, saya rasa Milan tidak punya pilihan lain selain harus menjual beberapa pemain pentingnya.
Beberapa pemain Milan, seperti Cristian Zapata, Ignazio Abate, Jose Mauri, Riccardo Montolivo, dan Andrea Bertolacci sudah dipastikan hengkang dari Milan. Hengkangnya mereka bukan disebabkan ada tim lain yang membelinya, tapi karena manajemen Milan yang memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak mereka yang berakhir pada Juni 2019. Itu artinya, Milan tidak memperoleh apa-apa dengan kepergian mereka.
Meski tidak banyak membantu dalam mengurangi krisis finansial Milan, tapi paling tidak hengkangnya mereka akan sedikit mengurangi pengeluaran klub yang berasal dari gaji pemain.
---
Untuk sedikit menstabilkan neraca finansial, saya rasa Milan mau tidak mau harus mampu menjual beberapa pemain pentingnya dan tentu saja ditambah lagi dengan menjual beberapa pemainnya yang memang tidak banyak berkontribusi bagi klub.
Sebagai seseorang yang lumayan mengikuti perjalan Milan sejak era kepemilikan Yonghong Li, saya rasa tidak ada salahnya dong untuk sedikit mengeluarkan unek-unek saya tentang siapa saja pemain Milan yang sebaiknya dijual demi menstabilkan kembali kondisi finansial klub, sekaligus mungkin juga bisa meningkatkan performa klub dengan hengkangnya para pemain ini.
Pemain-pemain Milan yang sebaiknya dijual di bursa transfer musim panas 2019 adalah:
Antonio Donnaruma
Antonio Donnaruma (yang merupakan Kakak dari G. Donnaruma)/worldfootball.net
Saya rasa tidak bayak yang akan protes jika saya berpedapat, A. Donnaruma lebih baik angkat kaki saja dari Milan. Di musim kompetisi Serie A 17/18 saja, dia tidak mendapat jatah bermain semenit pun. Dengan kata lain, nol kontribusinya untuk Milan.
Satu-satuya konstribusinya untuk Milan adalah pada musim kompetisi 16/17, saat transfernya ke Milan pada saat itu menjadi salah satu syarat dari pihak G. Donnaruma (kiper utama Milan) untuk mau memperpanjang kontrak dengan Milan. Maka tidak heran, jika para fans radikal Milan menjulukinya sebagai parasit di tubuh Milan.
Memang betul jika A. Donnaruma jadi hengkang dari Milan tidak serta merta membuat krisis finansial Milan membaik. Lah wong harganya cuma 500 ribu euro. Tapi paling tidak, itu bisa sedikit memperbaiki wajah Milan di deretan para pemain.
Masa tim sekelas Milan, pemegang gelar Liga Champions tujuh kali, punya pemain yang sudah berusia 29 tahun dengan harga Cuma 500 ribu euro. Kan wagu!
Gianluigi Donnaruma
G. Donnaruma dalam kostum Timnas Italia/worldfootbal.net
Muda, bertalenta, dan tajir. Itulah gambaran umumnya. Di usianya yang masih 20 tahun, dia sudah mampu menjadi salah satu kiper dengan bayaran tertinggi di Serie A. Selain itu, sejak pertama kali diorbitkan dari tim Primavera (Tim Juniornya Milan), G. Donnaruma selalu menjadi pilihan utama pelatih untuk menjaga pos pertahanan terakhir Milan. Singkat kata, dia adalah aset paling berharga Milan saat ini.
Berkat penampilannya yang secara umum apik, harga jualnya pun melambung tinggi. Sampai saat ini harga pasaran kiper yang sudah berhasil menembus timnas senior Italia itu berada di angka 55 juta euro, atau sekitar 790-an milyar rupiah.
Perlu diingat, bahwa kondisi finansial Milan sedang krisis. Oleh karena itu, saya rasa penjualan aset terbaik adalah salah satu cara efisien yang bisa dilakukan Milan untuk sedikit membebaskan klub dari kondisi tersebut.
Jika Milan berhasil menjualnya, selain dipastikan akan memperoleh dana segar dengan jumlah yang cukup tinggi, Milan juga bisa mengurangi pengeluaran klub dari gaji G. Donaruma, yang mencapai 4,5 juta euro per pekan. 

Kalau dirupiahkan itu sekitar 71 juta. Iya, 71 juta. Kalian tidak salah baca atau hitung. Sekali lagi, dia digaji Milan sebesar 71 juta rupiah cuma dalam hitungan pekan!
Nah, lalu siapa yang akan menjadi penggantinya di skuat utama Milan?
Kalau soal itu, saya tidak terlalu risau. Milan masih punya Pepe Reina, kiper yang makin tua, makin jadi. Usianya sudah 30 tahun lebih, tapi penampilan masih saja lincah saat diminta pelatih untuk meggantikan G. Donnaruma di musim lalu.
Dan ingat! Milan juga masih punya A. Plizzari. Kiper yang tidak kalah muda dari G. Donaruma ini sudah dipercaya menjadi kiper utama Timnas Italia di ajang Piala Eropa U-21. Dan penampilannya dinilai banyak pihak, cukup apik. Mulai dari sana, saya cukup penasaran tentang apa yang akan diberikan A. Plizzari untuk Milan di musim depan.
Yang jelas, kedua kiper tersebut memiliki kelebihan utama yang lumayan menguntungkan jika dilihat dari kondisi klub sekarang, yang tidak dimiliki oleh G. Donnaruma: Gaji mereka murah. Hehehe...
Mattia Caldara
M. Caldara saat masih dipinjamkan ke Atalanta oleh Juventus/worldfootball.net
Diboyong dari Juventus pada pertengahan musim kompetisi 18/19, Caldara diharapkan bisa menjadi duet sepadan A. Romagnoli di jantung pertahanan Milan. Pesta penyambutan kedatangan Caldara ke Milan saya rasa cukup meriah. Bersama Higuain, dia dipajang di atas balkon sebuah gedung sambil melambaikan tangan kepada para Milanisti yag mengeluh-eluhkan namanya dari bawah.
Tapi itu semua hanya sekedar euforia di awal. Baru memasuki sesi latihan sekitaran satu atau dua bulan setelah resmi berkostum Milan, Caldara langsung mengalami cedera parah yang mengharuskannya absen hingga enam bulan. Hasilnya, sampai musim kompetisi Seria A berakhir, Caldara belum sama sekali diberikan kesempatan bermain.
Kabar baik sempat muncul tentang Caldara. Dia diprediksi bisa merumput kembali ketika Milan akan berhadapan dengan Inter di paruh kedua musim kompetisi kemarin. Namanya memang mucul di skuat cadangan Milan. Namun setelah pertandingan itu, namanya kembali tenggelam dari radar skuat Milan.
Jika dilihat dari ketidakkonsistenan nama Caldara masuk di skuat Milan, saya menjadi kurang yakin dengan kapasitas Caldara yang sempat dieluh-eluhkan sebagai salah satu bek muda terbaik Italia. Apalagi jika menilik kondisinya musim lalu, dia sangat rawan mengalami cedera.
Oleh karena itu, menurut saya Milan lebih baik menjualnya saja. Akibat cedera yang dideritanya selama semusim penuh, harga jualnya pun anjlok. Yang awalnya berada di angka 35 juta euro, hanya menjadi 20 juta euro per Juli 2019. Tapi itu jumlah yang sudah lumayan lah untuk sedikit menambal kebocoran keuangan klub.
Pertanyaan selanjutya sih, apa ada klub yang mau membeli pemain yang rawan cedera seperti dia? Ya, lihat saja nanti.
Tapi sejujurnya, saya masih punya sedikit harapan terhadapnya untuk bisa merumput lagi bersama Milan. Mengingat, Milan saat ini sedang sangat membutuhkan bek tengah. Christian Zapata yang bertugas sebagai pelapis Musacchio, dan Romagnoli, sudah dipastikan tidak diperpanjang kontraknya oleh Milan.
Kalau dia memang tidak dijual Milan, mudah-mudahan Giampaolo, pelatih Milan yang baru, berkenan memberikan kesempatannya untuk bermain. Dan kalau sudah diberikan kesempatan, lebih baik dia mampu memberikan penampilan terbaiknya. Masih ingat, kan, nasib Higuain yang jersey atas namanya sampai-sampai dipipisin fans radikal Milan gara-gara gagal memenuhi harapan banyak pihak.
Ivan Strinic
I. Strinic saat masih berseragam Napoli/wolrdfootbal.net
Pada awalnya saya mengira, Milan cukup berutung bisa mendatangkan Strinic ke San Siro dengan free transfer alias gratis dari Sampdoria. Pasalnya, meski sudah berusia 31 tahun, penampilannya masih cukup memukau, dengan mampu membawa Kroasia mencapai partai final Piala Dunia 2018. Hal ini lah yang membuat Milan kepincut utuk memboyongnya.
Tapi lagi-lagi itu hanya euforia di awal. Persis setelah resmi berseragam Milan, Strinic malah didiagnosis menderita penyakit jantung, lebih tepatnya otot jantungnya yang bermasalah. Menurut beberapa sumber, hal itu bisa menyebabkan terhambatnya peredaran darah ke seluruh tubuh. Tidak mau mengambil risiko, dokter menyarankan Strinic untuk istirahat total dari dunia olahraga selama enam bulan.
Setelah dinyatakan pulih dari penyakit jantungnya, Strinic dikabarkan malah menderita cedera engkel, yang mengharuskannya kembali istirahat selama tiga bulan. Praktis, hal itu membuatnya sama sekali tidak merumput sekalipun di musim kompetisi 18/19.
Karena alasan tersebutlah, saya rasa Milan lebih baik menjual Strinic di bursa transfer musim ini, dan meggantinya dengan pemain yang lebih fit, yang tidak gampang cedera. Hal ini tentu akan memudahkan Milan dalam memilih pemain di dalam skuatnya di musim depan.  
Hakan Calhanoglu
Satu dari dua pemain Milan di musim 18/19 yang beragama Islam/wolrdfootball.net
Milan memboyong Calhanoglu dari klub Jerman, Bayern Leverkusen, di awal musim kompetisi 17/18. Permainannya yang cukup atraktif membuat Milan kesengsem untuk merekrutnya.
Dua musim sudah dia berkostum Milan. Dan selama dua musim itu pula, dia selalu menjadi pilihan utama Milan untuk mengisi sektor kiri penyerangan Milan. Tapi meski begitu, selama berkostum Milan, saya rasa permainannya biasa-biasa saja, bahkan cenderung selalu ada yang kurang dari cara dia bermain.
Cara menggiringnya memang indah, tendangan kaki kanannya beberapa kali bisa menjebol gawang lawan dari luar kotak pinalti. Tapi ya, itu, saya merasa selalu ada yang kurang dari permainannya. Mungkin singkatnya, dia itu kurang determinasi, kurang ngotot dalam mengejar dan mendribel bola. 

Pernah sekali waktu dia dikritik oleh Gattuso (pelatih Milan musim 17/18) karena dia tidak seketika berdiri setelah dijatuhkan lawan dalam perebutan bola.
Satu-satunya hal yang saya sukai dari Calhanoglu adalah, dia seorang Muslim. Jarang-jarang dalam sejarah klub, Milan memiliki pemain yang bergama Islam. Tapi di atas itu, ada satu hal lain yang dapat membuat saya lebih menyukainya: jika dia segera laku di bursa transfer musim panas 2019.
Harga Calhanoglu di pasaran berada di angka 20 juta euro, jumlah yang cukup membantu Milan untuk bisa keluar dari jeratan pelanggaran FFP. Dikabarkan sudah ada dua klub dari Liga Jerman yang mengingikan jasanya.
Ya saya rasa, lebih baik dia mau mempertimbangkan untuk menerima tawaran dari klub Jerman tersebut. Sebab yang sudah-sudah, hanya ada dua Liga yang mampu menjamin moncernya karir pemain asal Turki, yakni di liga lokal mereka, dan satu satu liga lagi, di Liga Jerman.
Frank Kessie
Satu-satunya skuat utama Milan di musim 18/19 yang berasal dari Benua Afrika/worldfootball.net
Sama seperti Calhanoglu, Frank Kessie adalah salah satu skuat utama Milan di musim kompetisi 18/19, yang lebih baik dijual Milan. Harga pasaran Kessie yang mencapai 33 juta euro (pemain ke-lima termahal Milan), tentu saja akan sangat membantu Milan dalam memperbaiki neraca finansial klub.
Selain soal harga, Giampaolo, banyak dikabarkan tidak akan memakai jasa gelandang timnas Pantai Gading ini di musim kompetisi 19/20. Giampaolo lebih menginginkan gelandang yang bertipe taktikal, ketimbang fisikal seperti Kessie.
Kebutuhan Milan akan gelandang taktikal memang urgen jika dilihat berdasarkan performa klub. Di musim 18/19, Milan hanya mampu mencetak 55 gol, paling rendah di antara tim yang finish di urutan enam besar.
Salah satu alasan yang paling mungkin adalah minimnya gelandang taktikal kreatif yang mampu menyuplai bola-bola matang kepada para sriker. Total, saya hanya melihat Lucas Paqueta dan Giancomo Bonaventura yang bisa mengambil peran tersebut secara cukup apik.
Melihat itu, saya berharap Milan bisa segera menjual Kessie, dan segera mendapat gelandang baru yang lebih taktikal, yang nantinya bisa menyuplai bola-bola matang kepada Kristof Piatek, Thiago Silva, atau Patrick Cutrone secara maksimal.
---
Secara keseluruhan performa Milan di musim kompetisi 17/18 sebenarnya lebih baik daripada musim-musim sebelumnya. Produktivitas Milan dalam membuat gol meningkat. Dan jantung pertahanan Milan juga semakin solid. 

Ditambah lagi, akibat krisis Finansial, Milan kini “dipaksa” membeli pemain muda. Suatu hal yang justru menyehatkan kondisi finansial klub.
Di bawah kendali Elliot Management, pelan-pelan Milan mulai berani bertaruh dengan membangun jalan dan identitas yang baru. Pertaruhan yang saya yakin, akan membawa klub ke arah yang diidamkan.
Forza Milan!

Saturday, 18 May 2019

Betapa Sulitnya Mencari Sepatu yang Ideal Secara On-line

Berbagai contoh merek sepatu lari luar negeri/planetsport.asia
Setelah hampir kurang lebih setahun saya jarang berolahraga, akhirnya saya memutuskan untuk merutinkannya lagi. Hal itu sebenarnya diawali ketika saya bekerja di Yayasan As-Syifa. Lebih tepatnya, semenjak saya bekerja di sini, saya merasa tertuntut untuk rajin berolahraga. Untuk alasannya pastinya, nanti saya jelaskan di tulisan yang lain. 
Ada dua jenis olahraga yang mulai saya rutinkan (lagi), yakni bulutangkis dan berlari. Alasannya sederhana, karena saya merasa kedua olahraga tersebut yang paling sering dan mahir saya lakukan. Beruntungnya, dengan berkerja di Yayasan As-Syifa, akses melakukan dua olahraga tersebut terbilang mudah.
Selama dua bulan pertama saya rutin berolahraga, semuanya berjalan lancar, tidak ada masalah berarti. Masalah muncul sekitar di bulan ketiga: outsole sepatu olahraga yang biasa saya pakai robek.
Sepatu olahraga yang saya miliki itu memang sudah cukup tua, sudah saya pakai 4 tahun lebih. Ditambah, saya membebani sepatu tersebut dengan dua olahraga sekaligus, berlari dan bulutangkis. Jadi tidak heran, jika sepatu tersebut sudah meminta pensiun.
Padahal saya sudah membangun hubungan emosional yang kuat dengan sepatu itu. Bayangkan saja, empat tahun sudah sepatu itu membersamai. Sudah pasti saya akan sulit untuk move on. Namun demi kelancaran agenda olahraga saya, mau tidak mau, move on adalah satu-satunya opsi.
Dengan berbagai pertimbangan, utamanya didasari dengan rasa ingin berhemat, saya memutuskan untuk membeli satu saja sepatu, yang rencananya akan digunakan baik untuk berlari dan bulutangkis. Dan saya memilih untuk membelinya secara on-line, karena sudah terlanjur tergiur dengan banyaknya pilihan jenis dan diskonan yang banyak berseliweran di sana.
Saya kira proses move on itu akan berjalan cepat tanpa hambatan, namun saya salah. Ternyata mendapat sepatu yang benar-benar ideal secara on-line itu sulit. Diperlukan beberapa kali trial and error. Dalam pengalaman saya, sampai tiga kali. Berikut ini ulasannya:
Ukuran yang Kekecilan
Setelah sliwar-slewir di berbagai toko on-line maupun market place, dan menimbang harga, kualitas, review, serta diskonan, akhirnya saya menjatuhkan pilihan hati ke sepatu lari merek League, tepatnya serie Kumo 1.5 M warna hitam.
Dulu harganya ditambah ongkis kirim sekitar 460-an ribu. Ukuran sepatu yang saya pilih waktu itu adalah 42. Pilihan tersebut saya pilih berdasarkan ukuran sepatu yang sudah saya pensiunkan yang juga 42.
Penyakit orang yang belanja on-line pun muncul: ragu-ragu. Dan jujur, sampai saat itu saya masih ragu-ragu tentang kesesuaian ukuran dan modelnya. Maklum, itulah pertama kalinya saya belanja sepatu on-line, ditambah referensi yang saya miliki soal sepatu lari masih sangat minim.
Meski masih ragu-ragu, saya tetap nekat melakukan pembayaran. Sekitar empat hari menunggu. Barang itu pun sampai ke tangan saya.
Dan keragu-raguan itu pun menjadi benar adanya. Duhhh…!
Sejak percobaan pertama, kaki sudah merasa kurang nyaman. Ukuran panjang dan lebar sepatu ini terlalu kecil. Padahal nomor ukurannya sama dengan sepatu yang sudah saya pensiunkan.
Ada apa ini? Kenapa sempit banget, ya? Saya bertanya dalam hati.
Dan ditambah desainnya yang ternyata tidak sesuai ekspektasi. Sekaligus warnanya, yang terlalu monoton yakni hanya hitam dan putih.
Namun dengan tujuan menguatkan hati yang terlanjur dirundung kecewa, saya tetap mencoba memakainya untuk berlari. Apalah daya, yang didapat justru makin kecewa. Belum sampai 10 menit saya berlari, kaki sudah merasa tidak nyaman, nyeri di beberapa bagian.
Setelah itu, saya memutuskan untuk membeli sepatu lain dengan ukuran yang lebih besar. Dengan demikian, selagi menuggu datangnya sepatu yang baru, waktu-waktu berlari saya pun kembali ditemani sepatu olahraga lama yang sudah sobek di bagian outsolenya.
Belajar dari kesalahan tersebut, saya mulai menambah referensi saya tentang sepatu, terutama sepatu lari. Ada 3 benang merah yang bisa saya tarik tentang memilih sepatu lari secara on-line dari banyak artikel yang saya baca dan video yang saya tonton:
  • Ukurlah panjang kaki kita terlebih dulu (dalam cm) sebelum membeli, bisa menggunakan penggaris, atau dijiplak terlebih dulu kemudia diukur. Ukurlah dari ujung ibu jari (jempol) sampai ujung tumit.
  • Ketahui ukuran panjang (size chart) merek sepatu yang dipilih. Sebab masing-masing merek memiliki standar size chart masing-masing. Biasanya size chart sudah tersedia di deskripsi barang, atau di laman resmi merek masing-masing.
  • Yang paling penting, pilihlah sepatu dengan ukuran 1 cm atau 1,5 cm lebih panjang dari kaki kita. Ruang kosong di dalam sepatu nantinya berfungsi sebagai ruang kaki kita saat bergerak aktif. Contoh: setelah saya ukur, panjang kaki saya adalah 26,5 cm, maka saya direkomendasikan untuk memilih sepatu dengan panjang antara 27,5 cm sampai 28 cm.
Warna yang Tidak Cocok
Saya cukup beruntung bisa menjual sepatu League Kumo 1.5 M yang baru saja saya beli dalam waktu relatif singkat, sekitar 1 bulan setelah pemakaian, dan dengan harga yang tidak jauh berbeda dari harga beli: 430-an ribu.
Beralih kepada misi membeli sepatu dengan ukuran yang lebih besar, akhirnya saya kembali memandangi beberapa toko online dan place market. Dengan pertimbangan harga, kualitas, dan diskonan, pilihan saya masih jatuh kepada merek yang sama: League. Hanya saja kali ini, saya memilih seri dan warna yang berbeda.
Saya memilih League seri New Volkov warna merah. Di salah satu toko on-line, tertera harga yang cukup miring dibanding lainnya, reviewnya juga cukup bagus, dan warnanya cukup elegan, merah agak tua.
Masuk ke bagian terpenting, tidak mau jatuh ke dalam lubang yang sama: saya memilih sepatu dengan ukuran 43, atau pada size chart merek League, sama dengan panjang 27,5 cm. Lebih panjang 1 cm daripada kaki saya. Saat itu harga yang tertera sekitar 370-an ribu.
Meski sudah cukup yakin dengan ukuran yang dipilih, rasa ragu-ragu hasil belanja on-line masih saja menyelimuti. Rasa ragu-ragu itu baru hilang saat sepatu sudah benar-benar ada di tangan.
Sekitar 4 hari menunggu, sepatu akhirnya sampai di tangan. Dan…
Lagi-lagi saya dibuat kecewe. Duhhh!!!
Bukan soal ukuran. Tapi warnanya. Warna merahnya itu, loh, terlalu membuat mata silau, ngejreng banget. Berbeda dengan gambar yang dipasang di toko. Beberapa kawan juga mengamini hal tersebut.
Saat memakainya, saya merasa semua mata langsung tertuju kepada sepatu saya. Saya belum siap menjadi pusat perhatian…
Masih mencoba menguatkan hati yang (lagi-lagi) dirundung kecewa, saya tetap memakainya untuk berlari. Dan hasilnya sebenarnya cukup memuaskan. Meski butuh beberapa kali penyesuaian, sepatunya ternyata cukup nyaman untuk digunakan berlari. Ukuran yang saya pilih sepertinya cocok. Tapi tetap saja, warna ngejreng-nya membuat rasa percaya diri saya jadi minus.
Sambil masih memakainya, saya akhirnya (kembali) memutuskan untuk menjualnya. Dan beruntungnya, selang dua bulan kemudian, sepatu terjual dengan harga 345 ribu (ditambah ongkos kirim). Secara total, saya rugi sekitar 50 ribu. Tapi saya anggap itu sebagai harga sebuah pembelajaran.
Dari sana, saya baru tahu bahwa beberapa toko on-line lebih suka suka menggunakan gambar dari orang/toko lain untuk mempromosikan barang yang dijual. Jadi beberapa kali kejadian, barang yang ditampilkan di toko berbeda dengan barang yang dijual, baik dari warna maupun bentuk.
Dari sana, ada beberapa hal yang saya pelajari untuk memastikan kesesuain warna barang yang akan kita beli:
  • Lebih baik pilihlah toko yang memasang barang dengan gambar/foto asli dari gambar.
  • Atau paling tidak, gunakan itu sebagai referensi, jika kebetulan menemukan toko yang menjual barang yang sama dengan harga yang lebih murah, atau menawarkan diskon lebih besar. Hidup para pencari diskon!
  • Sebelum membeli, lebih baik baca artikel atau nonton video tentang review sepatu tersebut. Ingat ya, artikel atau video, jangan cuma membaca review dari toko on-line, terlebih kalau sepatu yang kita beli cukup mahal harganya.
  • Saya lebih menyarankan untuk nonton video review, karena di sana kita bisa melihat secara lebih jelas bentuk dan warna sepatu yang akan kita beli. Dan informasi yang disediakan biasanya lebih kompleks.
Menemukan Sepatu yang Sesuai
Berkat kejadia-kejadin di atas, saya merasa menjadi seseorang yang sudah cukup makan asam garam dalam masalah pembelian sepatu on-line. Berbekal itu, saya merasa lebih percaya diri untuk kembali mencari pengganti dari sepatu yang baru saja saya jual.
Karena saya sudah merasa nyaman dengan sepatu merek League seri New Volkov, akhirnya pilihan masih dijatuhkan ke seri seri yang sama, hanya saja dengan sedikit sentuhan dan warna yang berbeda. Saya pilih sepatu lari Leguae Volkov Shades M warna merah. Harganya sekitar 420-an ribu, plus diskon.
Setelah barang datang, saya cukup bersyukur. Secara keseuluruhan, saya cukup terpuaskan.
Bagian uppernya sebenarnya mirip dengan seri New Volkov, hanya saja untuk untuk Volkov Shades M, bahan yang digunakan bisa lebih mengembang menyesuaikan dengan bentuk kaki kita. Dan yang tentu saja paling penting: perpaduan warna uppernya antara hitam dengan merah yang tidak terlalu ngejreng, membuatnya tidak terlalu mencolok.
Begitu juga saat digunakan untuk berlari. Setelah beberapa kali penyesuaian, kaki saya sudah merasa nyaman dengan sepatu Volkov Shades M. Selain itu, rasa pecaya diri saya pun menjadi plus plus saat berlari dengan sepatu ini.
Sampai tulisan ini dimuat, sepatu League Volkov Shades M masih saya gunakan untuk berlari. Padahal, beberapa kali saya tergiur untuk berpaling ke sepatu-sepatu merek lain, yang terlihat lebih bergengsi, dan mahal tentunya.
Namun beberapa kali juga saya urungkan. Sebab setelah proses panjang ini, saya menyadari satu hal penting, bahwa mencari sepatu lari yang nyaman, sama halnya dengan urusan mencari pasangan yang ideal: penuh perjuangan dan ada kalanya perlu mengalami trial and error beberapa kali.

Sunday, 5 May 2019

Pengalaman Seleksi Kerja di As-Syifa Al-Khoeriyyah (Bagian 2)

Lanjutan dari bagian 1...
Jadi sekali lagi intinya adalah tadi, para pelamar kerja bisa saja melamar pada posisi tertentu, namun HRD akan kembali menentukan di posisi apa mereka akan diberi kesempatan untuk mengikuti tahapan selanjutnya. Keputusan ini tentu saja diambil melalui beberapa faktor, bisa saja berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman organisasi, pengalaman magang atau pengalaman kerja.
Tes Tulis On-line
Bagi para pelamar kerja yang lolos seleksi administrasi, selanjutnya mereka akan dihadapkan pada tes tulis on-line. Sebutan mereka saya rubah, agar lebih sesuai dengan konteks pembahasan: yang awalnya “pelamar kerja”, menjadi “peserta tes”.
Karena secara on-line, tentu saja para peserta tes bisa mengerjakannya di mana pun, selagi memiliki koneksi jaringan internet yang cukup stabil. Ingat, ya! Harus stabil!
Namun yang perlu diperhatikan lagi adalah jadwal tes. Karena tes tulis on-line ini tidak dikerjaan secara serentak oleh seluruh peserta tes. Biasanya HRD sudah menyusun jadwal khusus bagi para peserta tes untuk melaksanakan tes tulis on-line-nya masing-masing. Hal tersebut barangkali bertujuan untuk mengurangi beban server.
Teknis plaksanaan tes tulis on-line cukup sederhana. Tentu saja, yang pertama dilakukan adalah para peserta harus mematuhi jadwal pelaksanaan ujian tes on-line masing-masing. Selanjutnya, membuka laman PPGB 2019. Di sana akan ditemukan menu baru untuk mulai mengerjakan tes tulis on-line, yang sebelumnya tidak ditemukan saat seleksi PPGB 2019 masih dalam tahap seleksi administrasi. Terakhir, silahkan log-in dengan akun masing-masing.
Dan, selamat mengerjakan! Semua petunjuk mengerjakan tes tulis on-line akan dijelenterehkan di halaman pertama tes tulis on-line.
 Lalu bagaimana dengan soal tesnya? Jenis soal apa saja yang diujikan?
Terdapa dua jenis soal yang akan diujikan, yaitu Tes Kemampuan Dasar Umum (TKDU) dalam bentuk pilihan ganda dengan jumlah 50 soal, dan tes kompetensi dalam bentuk esai sebanyak 10 soal. Saya lupa berapa durasi waktu yang disediakan untuk menyelesaikan 60 soal itu, tapi satu hal yang saya ingat: HRD will not give an easy time for participants to finish the test.
Tidak semua jenis soal TKDU diujikan di tes tulis on-line ini. Saya masih ingat betul, pada TKDU PPGB 2018 tes Pola Gambar tidak diujikan. Sedangkan untuk jenis-jenis soal lain seperti tes deret angka, dan logika tetap diujikan. Selain soal TKDU umum, soal bahasa Inggris dan pengetahuan Islam juga diujikan. Namun bisa saja itu semua berubah untuk tahun-tahun berikutnya.
Selanjutnya ada tes kompetensi. Pemilihan soal pada tes ini disesuaikan dengan posisi yang HRD loloskan pada seleksi berkas. Misalnya bagi para pelamar yang lolos sebagai calon guru, maka soal kompetensinya tidak jauh tentang teori pendidikan atau mengajar. Misalnya lagi, untuk mereka yang diloloskan untuk posisi staf HRD, maka soal kompetensi yang diujikan pasti seputar manajemen sumber daya manusia. Begitu seterusnya untuk posisi-posisi yang lain.
Sebagai catatan, tidak semua posisi harus mengikuti tes tulis kompetensi ini. Seingat saya, beberapa posisi seperti admin, dan operator-operator lapangan, hanya diminta untuk mengikuti TKDU. Mereka nantinya akan lebih digenjot di tes praktik yang akan diadakan setelah tes tulis on-line ini.
Sekali lagi saya tekankan, penggunaan jaringan internet yang stabil sangat penting dalam pelaksanaan tes tulis on-line ini. Oh ya, satu lagi, bagi yang menggunakan token listrik di rumah, pastikan kuotanya sudah terisi. Dan pastikan juga yang menggunakan paket data seluler untuk mengakses internet, pastikan masa aktifnya belum memasuki masa tenggang dan jumlah kuotanya masih cukup.
Sungguh, kerepotan demi kerepotan akan melanda kalian, wahai para peserta tes, kalau tiba-tiba koneksi internet atau daya listrik kalian mati di tengah proses mengerjakan tes.
Tes Membaca Al-quran, Praktik dan Wawancara
Bagi para peserta tes tulis on-line yang lolos, maka tes yang harus dihadapi selanjutnya adalah 3 rangkaian tes akhir, yakni tes membaca al-quran, praktik, dan yang paling menentukan: wawancara kerja. Rangkaian tes tersebut akan dilaksanakan selama 1 hari penuh, langsung di lokasi. Dengan kata lain, para peserta diharuskan datang ke As-Syifa secara langsung pada penyelenggaraan tes akhir ini.
Bagi para peserta yang memang berdomisili di Subang, tentu saja bukan perkara sulit untuk langsung datang lokasi pada hari dilaksanakan tes. Nah, yang biasanya menjadi pertanyaan:
Bagaimana dengan saya, saya asalnya cukup jauh dari Subang? Apakah di sekitar As-Syifa terdapat penginapan untuk bermalam sebelum datang ke lokasi tes?
Tenang, tenang!
HRD sudah menyiapkan tempat bermalam, lengkap dengan kasur, dan kamar mandinya, untuk mempermudah akomodasi para peserta tes yang berasal dari luar Subang. Sudah cukup?
Kalau belum cukup, HRD juga sudah menyiapkan fasilitas yang lain: sarapan pagi, dan makan siang.
Ya, para peserta tes juga tidak perlu risau soal mau makan apa dan di mana, punya uang atau tidak, karena HRD juga sudah menyediakan jatah sarapan, makan siang, ditambah makanan ringan (snack) pada hari dilaksanakannya tes untuk semua peserta tes. Dan semua itu, bisa didapatkan secara gratis.
Sudah cukup, kan? Saya harap sudah. Karena saya yakin, hanya As-Syifa yang memanjakan para pelamar kerjanya.
Kembali kepada pelaksanaan tes. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, tes terakhir ini memiliki 3 rangkaian: tes membaca Al-quran, praktik, dan wawancara kerja. Setelah semua peserta tes dikumpulkan dalam satu tempat dan satu waktu di hari pelaksanaan tes, para peserta diminta menunggu namanya dipanggil oleh panitia Seleksi PPGB untuk menjalani tiap tahapan tes.
Di alam proses menunggu panggilan, saya sarankan para peserta tes harus memiliki tingkat sabar yang tinggi. Maksudnya, semisal seorang peserta tes sudah dipanggil dan (selanjutnya) selesai menjalani tes al-quran, dia tidak bisa secara langsung menjalani dan menyelesaikan tes-tes yang lain, alias dia juga masih harus menunggu namanya dipanggil lagi untuk tes-tes selanjutnya. Sebab masing-masing ruang tes, secara otomatis sudah dipenuhi oleh peserta yang lain.
Dengan jumlah penguji yang terbatas, dibanding dengan jumlah peserta tes yang hampir menyentuh angka 400-an, membuat proses menunggu itu terasa sangat lama bagi banyak peserta. Saya dan beberapa peserta Seleksi PPGB 2018 merasakannya betul.
Ya, kuncinya sabar. Hal-hal semacam itu adalah bagian dari proses. Jalanin saja.
Saya sendiri pada Seleksi PPGB 2018, sekitar pukul 17.00 baru menyelesaikan seluruh rangkaian tes. Saran saya, gunakan waktu menunggu untuk ngobrol dan berkenalan dengan peserta lain, siapa tahu mendapat teman jodoh dunia-akhirat.
Baiklah, untuk lebih memudahkan penjelasan terkait rangkaian tes terakhir ini, saya jelaskan satu persatu-satu saja.
Tes Membaca Al-quran
Dari namanya saja sudah jelas. Di dalam tes ini, para penguji yang akan memilihkan surat yang harus dibaca oleh para peserta tes.
Seberapa panjang yang harus dibaca?
Seingat saya, tidak lebih dari satu halaman.
Namun yang perlu diingat, sebelum mulai pengujian, biasanya para penguji ingin mengetahui tentang kebiasaan membaca Al-quran para peserta tes. Semakin rajin membaca Al-qurannya, biasanya surat/ayat yang dipilihkan akan semakin memiliki tingkat kesulitas untuk dibaca. Demikian sebaliknya.
Dan tentu, saja semakin rajin dan tartil membaca al-quran seorang peserta tes, maka peluang untuk mendapat skor besar di tes ini akan semakin besar.
Lalu bagaimana dengan kami-kami yang masih belum lancar dan belum rajin baca Al-qurannya?
Saran saya, dalam obrolan di awal, kita menjelaskan apa adanya saja. Kalau memang belum memiliki kebiasaan membaca Al-quran yang rutin, misalnya baru sempat membacanya dua hari sekali, itu pun tidak lebih dari satu halam, dan cara membacanya juga belum tartil, ya, sampaikan saja demikian kepada para penguji. Toh nantinya saat di tes membaca, para penguji akan memilihkan surat yang relatif mudah untuk dibaca.
Satu hal lagi. Para peserta juga akan ditanyai dan dites soal hafalan Al-quran. Sama seperti di atas, lebih baik sampaikan apa adanya saja, entah sudah hafal 10 juz, 5 juz, 1 juz, atau bahkan hanya surat-surat pendek di juz 30, misalanya. Nantinya para penguji akan mengetes hafalan para peserta tes, sesuai dengan kadar kemampuannya.
Setahu saya, tidak ada batasan khusus harus hafal berapa surat/juz dan harus seberapa tartil dalam membaca al-quran untuk bisa menjadi pegawai As-Syifa, namun tidak berarti dua hal tersebut tidak menjadi pertimbangan penilaian. Para penguji tetap melihat hal itu sebagai salah satu pertimbangan. 
Namun di atas itu semua, ada yang lebih utama: komitmen untuk terus belajar dan menghafal Al-quran selama berada di As-Syifa. Itu yang akan menjadi pembahasan pamungkas di tes membaca Al-quran nanti.  
Tes Praktik
Pada Seleksi PPGB 2018, posisi-posisi seperti staf HRD, staf Litbang, tidak harus menjalani tes praktik. Namun kabar terakhir yang saya dengar, pada PPGB 2019, semua peserta yang melamar di semua posisi diharuskan menjalani tes praktik.
Tentu saja tes praktik di sini, disesuaikan dengan posisi yang dilamar. 
Untuk posisi guru (posisi dengan kebutuhan terbanyak di As-Syifa), misalnya, mereka harus menjalani praktik mengajar (micro teaching) langsung di hadapan para murid. Murid-murid As-Syifa dikenal cukup aktif. 
Selain harus menyiapkan dan memahami materi yang akan disampaikan, saran saya para peserta tes micro teaching juga harus harus selalu siap ketika mereka tiba-tiba bertanya tentang suatu hal di tengah proses mengajar. Tidak bisa/salah dalam menjawab pertanyaan dari mereka, bisa menjadi nilai minus dalam tes praktik ini.
Contoh lain, tes praktik untuk posisi admin. Tes praktiknya tidak akan jauh tentang praktik mengoperasikan software-software PC/laptop. Biasanya para calon admin ini akan diminta untuk menunjukkan skill mengetik, dan mendesain mereka.
Lalu untuk posisi operator lapangan, seperti koki, driver, cleaning service (CS), kasir, security, dan lain-lain, akan menjalani tes praktik sesuai dengan bidang masing-masing. Untuk posisi koki akan menjalani praktik memasak sesuai dengan standar As-Syifa. Yang memilih posisi driver, akan langsung dites keahlian mengemudinya. Para calon security akan dites baris-berbaris dan beberapa kekuatan fisik. Dan begitu seterusnya untuk posisi-posisi yang lain.
Cukup banyak posisi kerja yang terdapat di As-Syifa. Saya sendiri, tidak mengetahui secara detail tes praktik yang harus dijalankan untuk masing-masing posisi. Namun untuk megetahui hal itu, saya rasa masing-masing peserta bisa memvisualkannya berdasarkan nama/identitas posisi kerja yang dilamar.
Tes Wawancara
Biasanya para pewawancara mencoba berkenalan dengan para peserta tes, mulai dari nama sampai latar belakang keluarga secara umum, sebelum memasuki sesi pertanyaan.
Pertanyaan pertama yang dilontarkan, kalau saya tidak salah ingat, adalah seputar gambaran umum tentang As-Syifa. Dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan umum wawancara kerja lainnya, seperti kelebihan dan kekurangan diri, alasan memilih bekerja di As-Syifa, pengalaman kerja dan organisasi, dan pertanyaan-pertanyaan umum lainnya. Baru setelah itu, mereka menanyakan pertanyaan-pertanyaan seputar kompetensi, atau posisi yang dilamar.  
Satu hal yang tidak kalah penting untuk diketahui, As-Syifa adalah lembaga Islam, jadi pewawancara juga akan menanyakan tentang kegiatan-kegiatan keislaman para peserta tes, biasanya seputar pengajian atau kajian-kajian yang rutin diikuti. Atau bisa juga para pewawancara menanyakan organisasi-organisasi keislaman apa saja yang pernah atau masih diikuti.
Dan satu lagi, para pewawancara juga akan menanyakan pandangan kita tentang satu atau beberapa peristiwa yang sedang ramai terjadi di tanah air, atau bisa juga suatu hal terkait kebangsaan. Seperti pada Seleksi PPGB 2018, saya ditanyai soal demokrasi dalam pandangan Islam. Salah satu teman saya, ditanyai soal konsep khilafah dalam Islam. Dan teman saya yang lain, diarahkan untuk membahas kasus Al-Maidah 51.
Pada tahap ini, saya rasa pewawancara ingin mengetahui sejauh mana keimanan para peserta terhadap Islam digunakan sebagai cara pandang untuk melihat dan bersikap terhadap sebuah peristiwa.
Saya rasa hal ini adalah hal biasa yang ditanyakan kepada para calon pegawai baru di lembaga atau perusahaan yang ideologi Islamnya kuat. Karena bakal aneh, jika sebuah lembaga atau perusahaan Islam memiliki pegawai yang justru mendukung legalisasi pernikahan sesame jenis atas nama HAM, misalnya, atau yang justru menyalahkan rakyat Palestina terhadap perlawanan-perlawanan mereka terhadap tentara Israel.
Hal-hal tersebut tentu bertentangan dengan cara pandang Islam dalam segi akidah maupun muamalah. Orang-orang yang demikian, saya rasa tidak cocok untuk berada dalam lingkungan kerja yang ideologi Islamnya kuat, seperti As-Syifa.
Dari sini, biasanya muncul pertanyaan-pertanyaan lanjutan:
Lalu bagaimana penerimaan As-Syifa terhadap orang-orang yang praktik ibadah atau muamalahnya berlatar belakang NU, Muhammadiyah, Salafi, Persis, dan lain-lain?
Secara umum As-Syifa tidak mempermasalahkan apa pun latar belakang keislaman para calon pegawainya. As-Syifa membuka pintu bagi semua orang dengan latar belakang keagamaan yang berbeda-beda.
Saya kasih contoh kecil di lapangan. Beberapa pegawai As-Syifa ada yang lebih memilih berpenampilan dengan celana cingkrang, yang lainnya tidak. Beberapa ada lebih suka menggunakan jubah untuk solat, yang lainnya lebih nyaman dengan gaya khas NU, pakai sarung dan peci hitam. Beberapa imam solat di sini, yang juga berstatus pegawai, ada yang memilih keras dalam membaca “basmallah” di awal pembacaan surat Al-Fatehah, sedang yang lain memilih lirih. Dan masih banyak lagi perbedaan-perbedaan semacam itu di As-Syifa.
Namun ada satu hal yang dituntut untuk serempak, khususnya bagi para pegawai perempuan: mereka diwajibkan mengenakan kerudung panjang dan lebar, plus berkaos kaki. Alasannya sudah cukup jelas saya rasa.
Nha, kembali membahas tes wawancara. Seperti biasa, pewawancara akan menutup wawancara dengan pertanyaan pamungkas: berapa gaji yang diinginkan kalau diterima sebagai pegawai As-Syifa?
Kalau soal ini, lebih baik realistis saja. Kalau merasa masih fresh graduate, ya, penawarannya jangan terlalu tinggi: sedikit di atas UMR, itu sudah maksimal. Namun kalau memang sudah berpengalaman, dan merasa memiliki nilai jual tinggi, tidak ada salahnya untuk bernegosiasi dengan angka yang sedikit lebih tinggi.
Nah, pertanyaan di atas, biasanya akan dilanjutkan pertanyaan yang lebih pamungkas lagi: Bagaimana jika gaji yang diterima anda lebih kecil dari yang anda harapkan? Apakah anda akan tetap menerimanya atau tidak?
Nah, menyangkut pertanyaan ini, mah, hanya masing-masing peserta tes yang lebih paham dan berhak untuk menjawab. Kalau saya dulu, sih, jawabnya: Iya!

Pengalaman Seleksi Kerja di As-Syifa Al-Khoeriyyah (Bagian 1)

Generasi milineal, dan generasi-generasi setelahnya sudah sangat akrab dengan yang namanya mesin pencari informasi “google”. Saya pribadi merasakan betul, betapa ketergantungan terhadap google. Contoh saja, saya hampir selalu mengandalkan google untuk memuaskan rasa penasaran terhadap segala sesuatu.
Setelah memasuki masa setelah lulus kuliah, ketergantungan saya terhadap google bisa dibilang mengalami pergeseran fungsi. Yang awalnya lebih sering digunakan untuk mencari sesuatu yang sifatnya menambah pengetahuan, kini beralih kepada sesuatu yang lebih informatif. Apalagi kalau bukan soal mencari informasi lowongan pekerjaan.
Saya rasa sudah menjadi insting para pencari kerja untuk mencari informasi selengkap-lengkapnya tentang seluruh tahapan seleksi yang akan mereka hadapi untuk menjadi pegawai di suatu tempat, di samping informasi-informasi lain yang sifatnya lebih menjelaskan soal company profile. Hal itu saya rasa penting untuk para pencari kerja, terutama mereka-mereka yang sudah dinyatakan lolos dalam tahap seleksi administrasi.
Informasi-informasi semacam itu mudah ditemukan, namun bukan melalui laman-laman resmi milik perusahaan/lembaga, melainkan laman/blog milik personal, yang ditulis (tentu saja) oleh orang-orang yang sudah menjalani langsung tahapan-tahapan seleksi pegawai di suatu perusahaan/lembaga.
Dan kabar baiknya (mungkin), informasi tentang tahapan-tahapan seleksi di salah satu perusahaan/lembaga bisa ditemukan di tulisan ini juga. Dan (mungkin) kabar baik yang kedua, si penulis, siapa lagi kalau bukan saya, sudah menjadi pegawai di perusahaan/lembaga yang dimaksud selama 9 bulan terhitung sejak tulisan ini dimuat di blog ini.   
Tapi jangan terlalu harap kalian akan memperoleh informasi detail soal rangkaian tahapan seleksi di perusahaan/lembaga tempat saya bekerja sekarang. Selain karena malas, saya juga tidak mungkin mampu melakukannya. Yang akan saya jelaskan hanya gambaran umum dan barangkali sedikit diberi detail untuk beberapa bagian yang saya nilai penting.
Perusahaan/lembaga yang saya maksud di sini adalah Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah (As-Syifa) yang terletak di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Karena As-Syifa adalah sebuah yayasan, maka untuk selanjutnya, saya menyebutnya dengan “lembaga”.
Sedikit penjelasan tentang As-Syifa. As-Syifa adalah sebuah lembaga non-profit yang bergerak dalam bidang dakwah, sosial, dan pendidikan. Dalam bidang dakwah, misalnya, salah satu target jangka panjangnya adalah tersebarnya syiar Islam di lingkungan-lingkungan sekitar As-Syifa. Dalam bidang sosial, salah satu yang cukup sering dilakukan adalah melakukan penggalangan dana untuk membantu atau mensejahterakan orang-orang yang dinilai memerlukan.
Dan terakhir dalam bidang pendidikan, As-Syifa sampai tahun 2019 sudah memiliki 5 sekolah formal yang resmi terdaftar di Kemdikbud, baik itu di jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Masing-masing sekolah terletak di dua lokasi yang berbeda: yakni di Kecamatan Jalancagak, Subang, untuk kampus utama yang sudah berdiri sejak 2008, dan kampus kedua yang baru berdiri 2017 di Kecamatan Wanareja, Subang.
Selain itu, di As-Syifa Jalancagak, juga memiliki lembaga pendidikan yang ditujukkan khusus untuk menghapal Al-quran dan mempelajari ilmu Al-quran.
---
Baiklah, kembali ke substansi pembahasan, tentang pengalaman seleksi penerimaan pegawai baru di As-Syifa, yang selanjutnya lebih dikenal dengan seleksi PPGB.
Periode 25 Februari - 4 Mei 2019, As-Syifa sedang mengadakan rangkaian acara seleksi PPGB untuk yang ke sekian kalinya. Cukup banyak posisi yang ditawarkan. Sayup-sayup berita yang saya dengar, untuk peride tersebut, As-Syifa akan merekrut kurang lebih 100 orang untuk mengisi beberapa posisi yang ditawarkan.
Seriusan 100 orang? Kenapa sampai segitu banyakanya?
Iya, saya serius. Hal ini disebabkan, saat ini As-Syifa masih membutuhkan banyak tenaga tambahan untuk ditempatkan di dua sekolahnya yang masih terbilang baru, yang terletak di Kecamatan Wanareja, Subang.
Jadi hampir dipastikan, sebagian besar dari pelamar kerja yang lolos seleksi PPGB di periode 25 Februari – 4 Mei 2019 akan ditempatkan di As-Syifa Wanareja.
Untuk mengetahuinya lebih detail, kalian bisa membuka laman resmi Seleksi PPGB di karir.alshifacharity.com. Laman ini hanya akan aktif di pada masa-masa penyelenggaraan PPGB saja. Bagin IT As-Syifa akan segera menonaktifkannya sesaat setelah tiap seleksi PPGB rampung dilaksanakan.
Semua informasi yang dibutuhkan soal seleksi PPGB tersedia di sana. Termasuk tanggal-tanggal penting terkait pengumuman hasil masing-masing tahapan seleksi dan pengumuman-pengumuman penting lainnya. Semuanya dijamin real time dan transparan!
--
Baiklah, untuk menjadi pegawai As-Syifa ada beberapa tahapan yang harus dilalui di seleksi PPGB As-Syifa.
Seleksi Administrasi
Di mana pun perusahaan/lembaganya, semuanya sama, seleksi penerimaan pegawai baru pasti diawali dengan seleksi administrasi, termasuk di As-Syifa.
Untuk penyelenggaraan Seleksi PPGB 2019, berkas-berkas yang harus disiapkan cenderung lebih mudah daripada penyelenggaraannya di tahun 2018. Jika di tahun 2018, pelamar kerja harus menyiapkan surat keterangan sehat, dan surat rekomendasi dari tokoh masyarakat. Untuk tahun 2019, entah kenapa 2 dokumen tersebut tidak lagi dipersyaratakan.
Nah, dengan berkurangnya 2 dokumen tersebut, kalian hanya perlu melampirkan berkas-berkas di bawah ini bersama surat lamaran pekerjaan:
a.      Foto berwarna ukuran 3 X 4;
b.      Daftar riwayat hidup / CV;
c.       Hasil pindai/scan KTP;
d.      Hasil pindai/scan Ijazah dan Transkip Nilai terakhir;
e.      Sertifikat kemahiran bahasa untuk posisi Guru bahasa Inggris/Arab; dan
f.        File dokumen Rencana Pembelajaran (RPP) untuk posisi Guru. 
Fixed! Tidak ada dokumen yang ribet untuk disiapkan.
Untuk Seleksi PPGB As-Syifa 2019, semua dokumen yang disiapkan cukup dalam bentuk soft file-nya saja. Kalau sudah disiapkan semua, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengunggahnya ke laman seleksi PPGB As-Syifa di karir.alshifacharity.com
Sebelum memiliki akses untuk mengunggah berkas-berkas tersebut, masing-masing pelamar kerja perlu memiliki akun terlebih dulu. Seluruh langkah dan syarat pembuatan akun sudah dijelaskan dengan detail di laman seleksi PPGB, termasuk sebuah persyaratan yang mengharuskan para pelamar untuk memiliki akun Telegram.
Nantinya bagian HRD akan memasukkan seluruh akun telegram pelamar kerja di grup khusus Seleksi PPGB 2019. Grup tersebut digunakan HRD sebagai media utama untuk berbagi seluruh informasi Seleksi PPGB 2019, sekaligus sebagai tempat berinteraksi (tanya-jawab) dengan para pelamar kerja.
Kembali kepada proses pengunggahan berkas-berkas lamaran kerja. Kalau sudah diunggah semua, yang perlu dilakukan, ya, hanya menunggu dan banyak-banyak berdoa agar dinyatakan lolos ke tahap seleksi selanjutnya.
Oh ya, satu lagi yang perlu diperhatikan. Bagi para pelamar kerja yang lolos dari tahap seleksi administrasi, bisa jadi mereka akan ditempatkan HRD untuk mengikuti seleksi di posisi yang berbeda dengan posisi yang dilamar pada awal registrasi.
Salah satu teman saya yang mendaftar pada PPGB tahun 2018 sebagai sebagai staf HRD, namun dia justru diloloskan untuk mengikuti seleksi sebagai guru IPA.
Sebagai catatan, latar pendidikan teman saya memang IPA, jadi sepertinya hal itulah yang membuat HRD meloloskannya untuk mengikuti tahapan seleksi selanjutnya sebagai guru IPA. Tapi bisa juga HRD akan mempertimbangkan hal lain, selain latar belakang pendidikan. Who knows?
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html