Saturday, 18 May 2019

Betapa Sulitnya Mencari Sepatu yang Ideal Secara On-line

Berbagai contoh merek sepatu lari luar negeri/planetsport.asia
Setelah hampir kurang lebih setahun saya jarang berolahraga, akhirnya saya memutuskan untuk merutinkannya lagi. Hal itu sebenarnya diawali ketika saya bekerja di Yayasan As-Syifa. Lebih tepatnya, semenjak saya bekerja di sini, saya merasa tertuntut untuk rajin berolahraga. Untuk alasannya pastinya, nanti saya jelaskan di tulisan yang lain. 
Ada dua jenis olahraga yang mulai saya rutinkan (lagi), yakni bulutangkis dan berlari. Alasannya sederhana, karena saya merasa kedua olahraga tersebut yang paling sering dan mahir saya lakukan. Beruntungnya, dengan berkerja di Yayasan As-Syifa, akses melakukan dua olahraga tersebut terbilang mudah.
Selama dua bulan pertama saya rutin berolahraga, semuanya berjalan lancar, tidak ada masalah berarti. Masalah muncul sekitar di bulan ketiga: outsole sepatu olahraga yang biasa saya pakai robek.
Sepatu olahraga yang saya miliki itu memang sudah cukup tua, sudah saya pakai 4 tahun lebih. Ditambah, saya membebani sepatu tersebut dengan dua olahraga sekaligus, berlari dan bulutangkis. Jadi tidak heran, jika sepatu tersebut sudah meminta pensiun.
Padahal saya sudah membangun hubungan emosional yang kuat dengan sepatu itu. Bayangkan saja, empat tahun sudah sepatu itu membersamai. Sudah pasti saya akan sulit untuk move on. Namun demi kelancaran agenda olahraga saya, mau tidak mau, move on adalah satu-satunya opsi.
Dengan berbagai pertimbangan, utamanya didasari dengan rasa ingin berhemat, saya memutuskan untuk membeli satu saja sepatu, yang rencananya akan digunakan baik untuk berlari dan bulutangkis. Dan saya memilih untuk membelinya secara on-line, karena sudah terlanjur tergiur dengan banyaknya pilihan jenis dan diskonan yang banyak berseliweran di sana.
Saya kira proses move on itu akan berjalan cepat tanpa hambatan, namun saya salah. Ternyata mendapat sepatu yang benar-benar ideal secara on-line itu sulit. Diperlukan beberapa kali trial and error. Dalam pengalaman saya, sampai tiga kali. Berikut ini ulasannya:
Ukuran yang Kekecilan
Setelah sliwar-slewir di berbagai toko on-line maupun market place, dan menimbang harga, kualitas, review, serta diskonan, akhirnya saya menjatuhkan pilihan hati ke sepatu lari merek League, tepatnya serie Kumo 1.5 M warna hitam.
Dulu harganya ditambah ongkis kirim sekitar 460-an ribu. Ukuran sepatu yang saya pilih waktu itu adalah 42. Pilihan tersebut saya pilih berdasarkan ukuran sepatu yang sudah saya pensiunkan yang juga 42.
Penyakit orang yang belanja on-line pun muncul: ragu-ragu. Dan jujur, sampai saat itu saya masih ragu-ragu tentang kesesuaian ukuran dan modelnya. Maklum, itulah pertama kalinya saya belanja sepatu on-line, ditambah referensi yang saya miliki soal sepatu lari masih sangat minim.
Meski masih ragu-ragu, saya tetap nekat melakukan pembayaran. Sekitar empat hari menunggu. Barang itu pun sampai ke tangan saya.
Dan keragu-raguan itu pun menjadi benar adanya. Duhhh…!
Sejak percobaan pertama, kaki sudah merasa kurang nyaman. Ukuran panjang dan lebar sepatu ini terlalu kecil. Padahal nomor ukurannya sama dengan sepatu yang sudah saya pensiunkan.
Ada apa ini? Kenapa sempit banget, ya? Saya bertanya dalam hati.
Dan ditambah desainnya yang ternyata tidak sesuai ekspektasi. Sekaligus warnanya, yang terlalu monoton yakni hanya hitam dan putih.
Namun dengan tujuan menguatkan hati yang terlanjur dirundung kecewa, saya tetap mencoba memakainya untuk berlari. Apalah daya, yang didapat justru makin kecewa. Belum sampai 10 menit saya berlari, kaki sudah merasa tidak nyaman, nyeri di beberapa bagian.
Setelah itu, saya memutuskan untuk membeli sepatu lain dengan ukuran yang lebih besar. Dengan demikian, selagi menuggu datangnya sepatu yang baru, waktu-waktu berlari saya pun kembali ditemani sepatu olahraga lama yang sudah sobek di bagian outsolenya.
Belajar dari kesalahan tersebut, saya mulai menambah referensi saya tentang sepatu, terutama sepatu lari. Ada 3 benang merah yang bisa saya tarik tentang memilih sepatu lari secara on-line dari banyak artikel yang saya baca dan video yang saya tonton:
  • Ukurlah panjang kaki kita terlebih dulu (dalam cm) sebelum membeli, bisa menggunakan penggaris, atau dijiplak terlebih dulu kemudia diukur. Ukurlah dari ujung ibu jari (jempol) sampai ujung tumit.
  • Ketahui ukuran panjang (size chart) merek sepatu yang dipilih. Sebab masing-masing merek memiliki standar size chart masing-masing. Biasanya size chart sudah tersedia di deskripsi barang, atau di laman resmi merek masing-masing.
  • Yang paling penting, pilihlah sepatu dengan ukuran 1 cm atau 1,5 cm lebih panjang dari kaki kita. Ruang kosong di dalam sepatu nantinya berfungsi sebagai ruang kaki kita saat bergerak aktif. Contoh: setelah saya ukur, panjang kaki saya adalah 26,5 cm, maka saya direkomendasikan untuk memilih sepatu dengan panjang antara 27,5 cm sampai 28 cm.
Warna yang Tidak Cocok
Saya cukup beruntung bisa menjual sepatu League Kumo 1.5 M yang baru saja saya beli dalam waktu relatif singkat, sekitar 1 bulan setelah pemakaian, dan dengan harga yang tidak jauh berbeda dari harga beli: 430-an ribu.
Beralih kepada misi membeli sepatu dengan ukuran yang lebih besar, akhirnya saya kembali memandangi beberapa toko online dan place market. Dengan pertimbangan harga, kualitas, dan diskonan, pilihan saya masih jatuh kepada merek yang sama: League. Hanya saja kali ini, saya memilih seri dan warna yang berbeda.
Saya memilih League seri New Volkov warna merah. Di salah satu toko on-line, tertera harga yang cukup miring dibanding lainnya, reviewnya juga cukup bagus, dan warnanya cukup elegan, merah agak tua.
Masuk ke bagian terpenting, tidak mau jatuh ke dalam lubang yang sama: saya memilih sepatu dengan ukuran 43, atau pada size chart merek League, sama dengan panjang 27,5 cm. Lebih panjang 1 cm daripada kaki saya. Saat itu harga yang tertera sekitar 370-an ribu.
Meski sudah cukup yakin dengan ukuran yang dipilih, rasa ragu-ragu hasil belanja on-line masih saja menyelimuti. Rasa ragu-ragu itu baru hilang saat sepatu sudah benar-benar ada di tangan.
Sekitar 4 hari menunggu, sepatu akhirnya sampai di tangan. Dan…
Lagi-lagi saya dibuat kecewe. Duhhh!!!
Bukan soal ukuran. Tapi warnanya. Warna merahnya itu, loh, terlalu membuat mata silau, ngejreng banget. Berbeda dengan gambar yang dipasang di toko. Beberapa kawan juga mengamini hal tersebut.
Saat memakainya, saya merasa semua mata langsung tertuju kepada sepatu saya. Saya belum siap menjadi pusat perhatian…
Masih mencoba menguatkan hati yang (lagi-lagi) dirundung kecewa, saya tetap memakainya untuk berlari. Dan hasilnya sebenarnya cukup memuaskan. Meski butuh beberapa kali penyesuaian, sepatunya ternyata cukup nyaman untuk digunakan berlari. Ukuran yang saya pilih sepertinya cocok. Tapi tetap saja, warna ngejreng-nya membuat rasa percaya diri saya jadi minus.
Sambil masih memakainya, saya akhirnya (kembali) memutuskan untuk menjualnya. Dan beruntungnya, selang dua bulan kemudian, sepatu terjual dengan harga 345 ribu (ditambah ongkos kirim). Secara total, saya rugi sekitar 50 ribu. Tapi saya anggap itu sebagai harga sebuah pembelajaran.
Dari sana, saya baru tahu bahwa beberapa toko on-line lebih suka suka menggunakan gambar dari orang/toko lain untuk mempromosikan barang yang dijual. Jadi beberapa kali kejadian, barang yang ditampilkan di toko berbeda dengan barang yang dijual, baik dari warna maupun bentuk.
Dari sana, ada beberapa hal yang saya pelajari untuk memastikan kesesuain warna barang yang akan kita beli:
  • Lebih baik pilihlah toko yang memasang barang dengan gambar/foto asli dari gambar.
  • Atau paling tidak, gunakan itu sebagai referensi, jika kebetulan menemukan toko yang menjual barang yang sama dengan harga yang lebih murah, atau menawarkan diskon lebih besar. Hidup para pencari diskon!
  • Sebelum membeli, lebih baik baca artikel atau nonton video tentang review sepatu tersebut. Ingat ya, artikel atau video, jangan cuma membaca review dari toko on-line, terlebih kalau sepatu yang kita beli cukup mahal harganya.
  • Saya lebih menyarankan untuk nonton video review, karena di sana kita bisa melihat secara lebih jelas bentuk dan warna sepatu yang akan kita beli. Dan informasi yang disediakan biasanya lebih kompleks.
Menemukan Sepatu yang Sesuai
Berkat kejadia-kejadin di atas, saya merasa menjadi seseorang yang sudah cukup makan asam garam dalam masalah pembelian sepatu on-line. Berbekal itu, saya merasa lebih percaya diri untuk kembali mencari pengganti dari sepatu yang baru saja saya jual.
Karena saya sudah merasa nyaman dengan sepatu merek League seri New Volkov, akhirnya pilihan masih dijatuhkan ke seri seri yang sama, hanya saja dengan sedikit sentuhan dan warna yang berbeda. Saya pilih sepatu lari Leguae Volkov Shades M warna merah. Harganya sekitar 420-an ribu, plus diskon.
Setelah barang datang, saya cukup bersyukur. Secara keseuluruhan, saya cukup terpuaskan.
Bagian uppernya sebenarnya mirip dengan seri New Volkov, hanya saja untuk untuk Volkov Shades M, bahan yang digunakan bisa lebih mengembang menyesuaikan dengan bentuk kaki kita. Dan yang tentu saja paling penting: perpaduan warna uppernya antara hitam dengan merah yang tidak terlalu ngejreng, membuatnya tidak terlalu mencolok.
Begitu juga saat digunakan untuk berlari. Setelah beberapa kali penyesuaian, kaki saya sudah merasa nyaman dengan sepatu Volkov Shades M. Selain itu, rasa pecaya diri saya pun menjadi plus plus saat berlari dengan sepatu ini.
Sampai tulisan ini dimuat, sepatu League Volkov Shades M masih saya gunakan untuk berlari. Padahal, beberapa kali saya tergiur untuk berpaling ke sepatu-sepatu merek lain, yang terlihat lebih bergengsi, dan mahal tentunya.
Namun beberapa kali juga saya urungkan. Sebab setelah proses panjang ini, saya menyadari satu hal penting, bahwa mencari sepatu lari yang nyaman, sama halnya dengan urusan mencari pasangan yang ideal: penuh perjuangan dan ada kalanya perlu mengalami trial and error beberapa kali.

Sunday, 5 May 2019

Pengalaman Seleksi Kerja di As-Syifa Al-Khoeriyyah (Bagian 2)

Lanjutan dari bagian 1...
Jadi sekali lagi intinya adalah tadi, para pelamar kerja bisa saja melamar pada posisi tertentu, namun HRD akan kembali menentukan di posisi apa mereka akan diberi kesempatan untuk mengikuti tahapan selanjutnya. Keputusan ini tentu saja diambil melalui beberapa faktor, bisa saja berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman organisasi, pengalaman magang atau pengalaman kerja.
Tes Tulis On-line
Bagi para pelamar kerja yang lolos seleksi administrasi, selanjutnya mereka akan dihadapkan pada tes tulis on-line. Sebutan mereka saya rubah, agar lebih sesuai dengan konteks pembahasan: yang awalnya “pelamar kerja”, menjadi “peserta tes”.
Karena secara on-line, tentu saja para peserta tes bisa mengerjakannya di mana pun, selagi memiliki koneksi jaringan internet yang cukup stabil. Ingat, ya! Harus stabil!
Namun yang perlu diperhatikan lagi adalah jadwal tes. Karena tes tulis on-line ini tidak dikerjaan secara serentak oleh seluruh peserta tes. Biasanya HRD sudah menyusun jadwal khusus bagi para peserta tes untuk melaksanakan tes tulis on-line-nya masing-masing. Hal tersebut barangkali bertujuan untuk mengurangi beban server.
Teknis plaksanaan tes tulis on-line cukup sederhana. Tentu saja, yang pertama dilakukan adalah para peserta harus mematuhi jadwal pelaksanaan ujian tes on-line masing-masing. Selanjutnya, membuka laman PPGB 2019. Di sana akan ditemukan menu baru untuk mulai mengerjakan tes tulis on-line, yang sebelumnya tidak ditemukan saat seleksi PPGB 2019 masih dalam tahap seleksi administrasi. Terakhir, silahkan log-in dengan akun masing-masing.
Dan, selamat mengerjakan! Semua petunjuk mengerjakan tes tulis on-line akan dijelenterehkan di halaman pertama tes tulis on-line.
 Lalu bagaimana dengan soal tesnya? Jenis soal apa saja yang diujikan?
Terdapa dua jenis soal yang akan diujikan, yaitu Tes Kemampuan Dasar Umum (TKDU) dalam bentuk pilihan ganda dengan jumlah 50 soal, dan tes kompetensi dalam bentuk esai sebanyak 10 soal. Saya lupa berapa durasi waktu yang disediakan untuk menyelesaikan 60 soal itu, tapi satu hal yang saya ingat: HRD will not give an easy time for participants to finish the test.
Tidak semua jenis soal TKDU diujikan di tes tulis on-line ini. Saya masih ingat betul, pada TKDU PPGB 2018 tes Pola Gambar tidak diujikan. Sedangkan untuk jenis-jenis soal lain seperti tes deret angka, dan logika tetap diujikan. Selain soal TKDU umum, soal bahasa Inggris dan pengetahuan Islam juga diujikan. Namun bisa saja itu semua berubah untuk tahun-tahun berikutnya.
Selanjutnya ada tes kompetensi. Pemilihan soal pada tes ini disesuaikan dengan posisi yang HRD loloskan pada seleksi berkas. Misalnya bagi para pelamar yang lolos sebagai calon guru, maka soal kompetensinya tidak jauh tentang teori pendidikan atau mengajar. Misalnya lagi, untuk mereka yang diloloskan untuk posisi staf HRD, maka soal kompetensi yang diujikan pasti seputar manajemen sumber daya manusia. Begitu seterusnya untuk posisi-posisi yang lain.
Sebagai catatan, tidak semua posisi harus mengikuti tes tulis kompetensi ini. Seingat saya, beberapa posisi seperti admin, dan operator-operator lapangan, hanya diminta untuk mengikuti TKDU. Mereka nantinya akan lebih digenjot di tes praktik yang akan diadakan setelah tes tulis on-line ini.
Sekali lagi saya tekankan, penggunaan jaringan internet yang stabil sangat penting dalam pelaksanaan tes tulis on-line ini. Oh ya, satu lagi, bagi yang menggunakan token listrik di rumah, pastikan kuotanya sudah terisi. Dan pastikan juga yang menggunakan paket data seluler untuk mengakses internet, pastikan masa aktifnya belum memasuki masa tenggang dan jumlah kuotanya masih cukup.
Sungguh, kerepotan demi kerepotan akan melanda kalian, wahai para peserta tes, kalau tiba-tiba koneksi internet atau daya listrik kalian mati di tengah proses mengerjakan tes.
Tes Membaca Al-quran, Praktik dan Wawancara
Bagi para peserta tes tulis on-line yang lolos, maka tes yang harus dihadapi selanjutnya adalah 3 rangkaian tes akhir, yakni tes membaca al-quran, praktik, dan yang paling menentukan: wawancara kerja. Rangkaian tes tersebut akan dilaksanakan selama 1 hari penuh, langsung di lokasi. Dengan kata lain, para peserta diharuskan datang ke As-Syifa secara langsung pada penyelenggaraan tes akhir ini.
Bagi para peserta yang memang berdomisili di Subang, tentu saja bukan perkara sulit untuk langsung datang lokasi pada hari dilaksanakan tes. Nah, yang biasanya menjadi pertanyaan:
Bagaimana dengan saya, saya asalnya cukup jauh dari Subang? Apakah di sekitar As-Syifa terdapat penginapan untuk bermalam sebelum datang ke lokasi tes?
Tenang, tenang!
HRD sudah menyiapkan tempat bermalam, lengkap dengan kasur, dan kamar mandinya, untuk mempermudah akomodasi para peserta tes yang berasal dari luar Subang. Sudah cukup?
Kalau belum cukup, HRD juga sudah menyiapkan fasilitas yang lain: sarapan pagi, dan makan siang.
Ya, para peserta tes juga tidak perlu risau soal mau makan apa dan di mana, punya uang atau tidak, karena HRD juga sudah menyediakan jatah sarapan, makan siang, ditambah makanan ringan (snack) pada hari dilaksanakannya tes untuk semua peserta tes. Dan semua itu, bisa didapatkan secara gratis.
Sudah cukup, kan? Saya harap sudah. Karena saya yakin, hanya As-Syifa yang memanjakan para pelamar kerjanya.
Kembali kepada pelaksanaan tes. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, tes terakhir ini memiliki 3 rangkaian: tes membaca Al-quran, praktik, dan wawancara kerja. Setelah semua peserta tes dikumpulkan dalam satu tempat dan satu waktu di hari pelaksanaan tes, para peserta diminta menunggu namanya dipanggil oleh panitia Seleksi PPGB untuk menjalani tiap tahapan tes.
Di alam proses menunggu panggilan, saya sarankan para peserta tes harus memiliki tingkat sabar yang tinggi. Maksudnya, semisal seorang peserta tes sudah dipanggil dan (selanjutnya) selesai menjalani tes al-quran, dia tidak bisa secara langsung menjalani dan menyelesaikan tes-tes yang lain, alias dia juga masih harus menunggu namanya dipanggil lagi untuk tes-tes selanjutnya. Sebab masing-masing ruang tes, secara otomatis sudah dipenuhi oleh peserta yang lain.
Dengan jumlah penguji yang terbatas, dibanding dengan jumlah peserta tes yang hampir menyentuh angka 400-an, membuat proses menunggu itu terasa sangat lama bagi banyak peserta. Saya dan beberapa peserta Seleksi PPGB 2018 merasakannya betul.
Ya, kuncinya sabar. Hal-hal semacam itu adalah bagian dari proses. Jalanin saja.
Saya sendiri pada Seleksi PPGB 2018, sekitar pukul 17.00 baru menyelesaikan seluruh rangkaian tes. Saran saya, gunakan waktu menunggu untuk ngobrol dan berkenalan dengan peserta lain, siapa tahu mendapat teman jodoh dunia-akhirat.
Baiklah, untuk lebih memudahkan penjelasan terkait rangkaian tes terakhir ini, saya jelaskan satu persatu-satu saja.
Tes Membaca Al-quran
Dari namanya saja sudah jelas. Di dalam tes ini, para penguji yang akan memilihkan surat yang harus dibaca oleh para peserta tes.
Seberapa panjang yang harus dibaca?
Seingat saya, tidak lebih dari satu halaman.
Namun yang perlu diingat, sebelum mulai pengujian, biasanya para penguji ingin mengetahui tentang kebiasaan membaca Al-quran para peserta tes. Semakin rajin membaca Al-qurannya, biasanya surat/ayat yang dipilihkan akan semakin memiliki tingkat kesulitas untuk dibaca. Demikian sebaliknya.
Dan tentu, saja semakin rajin dan tartil membaca al-quran seorang peserta tes, maka peluang untuk mendapat skor besar di tes ini akan semakin besar.
Lalu bagaimana dengan kami-kami yang masih belum lancar dan belum rajin baca Al-qurannya?
Saran saya, dalam obrolan di awal, kita menjelaskan apa adanya saja. Kalau memang belum memiliki kebiasaan membaca Al-quran yang rutin, misalnya baru sempat membacanya dua hari sekali, itu pun tidak lebih dari satu halam, dan cara membacanya juga belum tartil, ya, sampaikan saja demikian kepada para penguji. Toh nantinya saat di tes membaca, para penguji akan memilihkan surat yang relatif mudah untuk dibaca.
Satu hal lagi. Para peserta juga akan ditanyai dan dites soal hafalan Al-quran. Sama seperti di atas, lebih baik sampaikan apa adanya saja, entah sudah hafal 10 juz, 5 juz, 1 juz, atau bahkan hanya surat-surat pendek di juz 30, misalanya. Nantinya para penguji akan mengetes hafalan para peserta tes, sesuai dengan kadar kemampuannya.
Setahu saya, tidak ada batasan khusus harus hafal berapa surat/juz dan harus seberapa tartil dalam membaca al-quran untuk bisa menjadi pegawai As-Syifa, namun tidak berarti dua hal tersebut tidak menjadi pertimbangan penilaian. Para penguji tetap melihat hal itu sebagai salah satu pertimbangan. 
Namun di atas itu semua, ada yang lebih utama: komitmen untuk terus belajar dan menghafal Al-quran selama berada di As-Syifa. Itu yang akan menjadi pembahasan pamungkas di tes membaca Al-quran nanti.  
Tes Praktik
Pada Seleksi PPGB 2018, posisi-posisi seperti staf HRD, staf Litbang, tidak harus menjalani tes praktik. Namun kabar terakhir yang saya dengar, pada PPGB 2019, semua peserta yang melamar di semua posisi diharuskan menjalani tes praktik.
Tentu saja tes praktik di sini, disesuaikan dengan posisi yang dilamar. 
Untuk posisi guru (posisi dengan kebutuhan terbanyak di As-Syifa), misalnya, mereka harus menjalani praktik mengajar (micro teaching) langsung di hadapan para murid. Murid-murid As-Syifa dikenal cukup aktif. 
Selain harus menyiapkan dan memahami materi yang akan disampaikan, saran saya para peserta tes micro teaching juga harus harus selalu siap ketika mereka tiba-tiba bertanya tentang suatu hal di tengah proses mengajar. Tidak bisa/salah dalam menjawab pertanyaan dari mereka, bisa menjadi nilai minus dalam tes praktik ini.
Contoh lain, tes praktik untuk posisi admin. Tes praktiknya tidak akan jauh tentang praktik mengoperasikan software-software PC/laptop. Biasanya para calon admin ini akan diminta untuk menunjukkan skill mengetik, dan mendesain mereka.
Lalu untuk posisi operator lapangan, seperti koki, driver, cleaning service (CS), kasir, security, dan lain-lain, akan menjalani tes praktik sesuai dengan bidang masing-masing. Untuk posisi koki akan menjalani praktik memasak sesuai dengan standar As-Syifa. Yang memilih posisi driver, akan langsung dites keahlian mengemudinya. Para calon security akan dites baris-berbaris dan beberapa kekuatan fisik. Dan begitu seterusnya untuk posisi-posisi yang lain.
Cukup banyak posisi kerja yang terdapat di As-Syifa. Saya sendiri, tidak mengetahui secara detail tes praktik yang harus dijalankan untuk masing-masing posisi. Namun untuk megetahui hal itu, saya rasa masing-masing peserta bisa memvisualkannya berdasarkan nama/identitas posisi kerja yang dilamar.
Tes Wawancara
Biasanya para pewawancara mencoba berkenalan dengan para peserta tes, mulai dari nama sampai latar belakang keluarga secara umum, sebelum memasuki sesi pertanyaan.
Pertanyaan pertama yang dilontarkan, kalau saya tidak salah ingat, adalah seputar gambaran umum tentang As-Syifa. Dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan umum wawancara kerja lainnya, seperti kelebihan dan kekurangan diri, alasan memilih bekerja di As-Syifa, pengalaman kerja dan organisasi, dan pertanyaan-pertanyaan umum lainnya. Baru setelah itu, mereka menanyakan pertanyaan-pertanyaan seputar kompetensi, atau posisi yang dilamar.  
Satu hal yang tidak kalah penting untuk diketahui, As-Syifa adalah lembaga Islam, jadi pewawancara juga akan menanyakan tentang kegiatan-kegiatan keislaman para peserta tes, biasanya seputar pengajian atau kajian-kajian yang rutin diikuti. Atau bisa juga para pewawancara menanyakan organisasi-organisasi keislaman apa saja yang pernah atau masih diikuti.
Dan satu lagi, para pewawancara juga akan menanyakan pandangan kita tentang satu atau beberapa peristiwa yang sedang ramai terjadi di tanah air, atau bisa juga suatu hal terkait kebangsaan. Seperti pada Seleksi PPGB 2018, saya ditanyai soal demokrasi dalam pandangan Islam. Salah satu teman saya, ditanyai soal konsep khilafah dalam Islam. Dan teman saya yang lain, diarahkan untuk membahas kasus Al-Maidah 51.
Pada tahap ini, saya rasa pewawancara ingin mengetahui sejauh mana keimanan para peserta terhadap Islam digunakan sebagai cara pandang untuk melihat dan bersikap terhadap sebuah peristiwa.
Saya rasa hal ini adalah hal biasa yang ditanyakan kepada para calon pegawai baru di lembaga atau perusahaan yang ideologi Islamnya kuat. Karena bakal aneh, jika sebuah lembaga atau perusahaan Islam memiliki pegawai yang justru mendukung legalisasi pernikahan sesame jenis atas nama HAM, misalnya, atau yang justru menyalahkan rakyat Palestina terhadap perlawanan-perlawanan mereka terhadap tentara Israel.
Hal-hal tersebut tentu bertentangan dengan cara pandang Islam dalam segi akidah maupun muamalah. Orang-orang yang demikian, saya rasa tidak cocok untuk berada dalam lingkungan kerja yang ideologi Islamnya kuat, seperti As-Syifa.
Dari sini, biasanya muncul pertanyaan-pertanyaan lanjutan:
Lalu bagaimana penerimaan As-Syifa terhadap orang-orang yang praktik ibadah atau muamalahnya berlatar belakang NU, Muhammadiyah, Salafi, Persis, dan lain-lain?
Secara umum As-Syifa tidak mempermasalahkan apa pun latar belakang keislaman para calon pegawainya. As-Syifa membuka pintu bagi semua orang dengan latar belakang keagamaan yang berbeda-beda.
Saya kasih contoh kecil di lapangan. Beberapa pegawai As-Syifa ada yang lebih memilih berpenampilan dengan celana cingkrang, yang lainnya tidak. Beberapa ada lebih suka menggunakan jubah untuk solat, yang lainnya lebih nyaman dengan gaya khas NU, pakai sarung dan peci hitam. Beberapa imam solat di sini, yang juga berstatus pegawai, ada yang memilih keras dalam membaca “basmallah” di awal pembacaan surat Al-Fatehah, sedang yang lain memilih lirih. Dan masih banyak lagi perbedaan-perbedaan semacam itu di As-Syifa.
Namun ada satu hal yang dituntut untuk serempak, khususnya bagi para pegawai perempuan: mereka diwajibkan mengenakan kerudung panjang dan lebar, plus berkaos kaki. Alasannya sudah cukup jelas saya rasa.
Nha, kembali membahas tes wawancara. Seperti biasa, pewawancara akan menutup wawancara dengan pertanyaan pamungkas: berapa gaji yang diinginkan kalau diterima sebagai pegawai As-Syifa?
Kalau soal ini, lebih baik realistis saja. Kalau merasa masih fresh graduate, ya, penawarannya jangan terlalu tinggi: sedikit di atas UMR, itu sudah maksimal. Namun kalau memang sudah berpengalaman, dan merasa memiliki nilai jual tinggi, tidak ada salahnya untuk bernegosiasi dengan angka yang sedikit lebih tinggi.
Nah, pertanyaan di atas, biasanya akan dilanjutkan pertanyaan yang lebih pamungkas lagi: Bagaimana jika gaji yang diterima anda lebih kecil dari yang anda harapkan? Apakah anda akan tetap menerimanya atau tidak?
Nah, menyangkut pertanyaan ini, mah, hanya masing-masing peserta tes yang lebih paham dan berhak untuk menjawab. Kalau saya dulu, sih, jawabnya: Iya!

Pengalaman Seleksi Kerja di As-Syifa Al-Khoeriyyah (Bagian 1)

Generasi milineal, dan generasi-generasi setelahnya sudah sangat akrab dengan yang namanya mesin pencari informasi “google”. Saya pribadi merasakan betul, betapa ketergantungan terhadap google. Contoh saja, saya hampir selalu mengandalkan google untuk memuaskan rasa penasaran terhadap segala sesuatu.
Setelah memasuki masa setelah lulus kuliah, ketergantungan saya terhadap google bisa dibilang mengalami pergeseran fungsi. Yang awalnya lebih sering digunakan untuk mencari sesuatu yang sifatnya menambah pengetahuan, kini beralih kepada sesuatu yang lebih informatif. Apalagi kalau bukan soal mencari informasi lowongan pekerjaan.
Saya rasa sudah menjadi insting para pencari kerja untuk mencari informasi selengkap-lengkapnya tentang seluruh tahapan seleksi yang akan mereka hadapi untuk menjadi pegawai di suatu tempat, di samping informasi-informasi lain yang sifatnya lebih menjelaskan soal company profile. Hal itu saya rasa penting untuk para pencari kerja, terutama mereka-mereka yang sudah dinyatakan lolos dalam tahap seleksi administrasi.
Informasi-informasi semacam itu mudah ditemukan, namun bukan melalui laman-laman resmi milik perusahaan/lembaga, melainkan laman/blog milik personal, yang ditulis (tentu saja) oleh orang-orang yang sudah menjalani langsung tahapan-tahapan seleksi pegawai di suatu perusahaan/lembaga.
Dan kabar baiknya (mungkin), informasi tentang tahapan-tahapan seleksi di salah satu perusahaan/lembaga bisa ditemukan di tulisan ini juga. Dan (mungkin) kabar baik yang kedua, si penulis, siapa lagi kalau bukan saya, sudah menjadi pegawai di perusahaan/lembaga yang dimaksud selama 9 bulan terhitung sejak tulisan ini dimuat di blog ini.   
Tapi jangan terlalu harap kalian akan memperoleh informasi detail soal rangkaian tahapan seleksi di perusahaan/lembaga tempat saya bekerja sekarang. Selain karena malas, saya juga tidak mungkin mampu melakukannya. Yang akan saya jelaskan hanya gambaran umum dan barangkali sedikit diberi detail untuk beberapa bagian yang saya nilai penting.
Perusahaan/lembaga yang saya maksud di sini adalah Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah (As-Syifa) yang terletak di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Karena As-Syifa adalah sebuah yayasan, maka untuk selanjutnya, saya menyebutnya dengan “lembaga”.
Sedikit penjelasan tentang As-Syifa. As-Syifa adalah sebuah lembaga non-profit yang bergerak dalam bidang dakwah, sosial, dan pendidikan. Dalam bidang dakwah, misalnya, salah satu target jangka panjangnya adalah tersebarnya syiar Islam di lingkungan-lingkungan sekitar As-Syifa. Dalam bidang sosial, salah satu yang cukup sering dilakukan adalah melakukan penggalangan dana untuk membantu atau mensejahterakan orang-orang yang dinilai memerlukan.
Dan terakhir dalam bidang pendidikan, As-Syifa sampai tahun 2019 sudah memiliki 5 sekolah formal yang resmi terdaftar di Kemdikbud, baik itu di jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Masing-masing sekolah terletak di dua lokasi yang berbeda: yakni di Kecamatan Jalancagak, Subang, untuk kampus utama yang sudah berdiri sejak 2008, dan kampus kedua yang baru berdiri 2017 di Kecamatan Wanareja, Subang.
Selain itu, di As-Syifa Jalancagak, juga memiliki lembaga pendidikan yang ditujukkan khusus untuk menghapal Al-quran dan mempelajari ilmu Al-quran.
---
Baiklah, kembali ke substansi pembahasan, tentang pengalaman seleksi penerimaan pegawai baru di As-Syifa, yang selanjutnya lebih dikenal dengan seleksi PPGB.
Periode 25 Februari - 4 Mei 2019, As-Syifa sedang mengadakan rangkaian acara seleksi PPGB untuk yang ke sekian kalinya. Cukup banyak posisi yang ditawarkan. Sayup-sayup berita yang saya dengar, untuk peride tersebut, As-Syifa akan merekrut kurang lebih 100 orang untuk mengisi beberapa posisi yang ditawarkan.
Seriusan 100 orang? Kenapa sampai segitu banyakanya?
Iya, saya serius. Hal ini disebabkan, saat ini As-Syifa masih membutuhkan banyak tenaga tambahan untuk ditempatkan di dua sekolahnya yang masih terbilang baru, yang terletak di Kecamatan Wanareja, Subang.
Jadi hampir dipastikan, sebagian besar dari pelamar kerja yang lolos seleksi PPGB di periode 25 Februari – 4 Mei 2019 akan ditempatkan di As-Syifa Wanareja.
Untuk mengetahuinya lebih detail, kalian bisa membuka laman resmi Seleksi PPGB di karir.alshifacharity.com. Laman ini hanya akan aktif di pada masa-masa penyelenggaraan PPGB saja. Bagin IT As-Syifa akan segera menonaktifkannya sesaat setelah tiap seleksi PPGB rampung dilaksanakan.
Semua informasi yang dibutuhkan soal seleksi PPGB tersedia di sana. Termasuk tanggal-tanggal penting terkait pengumuman hasil masing-masing tahapan seleksi dan pengumuman-pengumuman penting lainnya. Semuanya dijamin real time dan transparan!
--
Baiklah, untuk menjadi pegawai As-Syifa ada beberapa tahapan yang harus dilalui di seleksi PPGB As-Syifa.
Seleksi Administrasi
Di mana pun perusahaan/lembaganya, semuanya sama, seleksi penerimaan pegawai baru pasti diawali dengan seleksi administrasi, termasuk di As-Syifa.
Untuk penyelenggaraan Seleksi PPGB 2019, berkas-berkas yang harus disiapkan cenderung lebih mudah daripada penyelenggaraannya di tahun 2018. Jika di tahun 2018, pelamar kerja harus menyiapkan surat keterangan sehat, dan surat rekomendasi dari tokoh masyarakat. Untuk tahun 2019, entah kenapa 2 dokumen tersebut tidak lagi dipersyaratakan.
Nah, dengan berkurangnya 2 dokumen tersebut, kalian hanya perlu melampirkan berkas-berkas di bawah ini bersama surat lamaran pekerjaan:
a.      Foto berwarna ukuran 3 X 4;
b.      Daftar riwayat hidup / CV;
c.       Hasil pindai/scan KTP;
d.      Hasil pindai/scan Ijazah dan Transkip Nilai terakhir;
e.      Sertifikat kemahiran bahasa untuk posisi Guru bahasa Inggris/Arab; dan
f.        File dokumen Rencana Pembelajaran (RPP) untuk posisi Guru. 
Fixed! Tidak ada dokumen yang ribet untuk disiapkan.
Untuk Seleksi PPGB As-Syifa 2019, semua dokumen yang disiapkan cukup dalam bentuk soft file-nya saja. Kalau sudah disiapkan semua, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengunggahnya ke laman seleksi PPGB As-Syifa di karir.alshifacharity.com
Sebelum memiliki akses untuk mengunggah berkas-berkas tersebut, masing-masing pelamar kerja perlu memiliki akun terlebih dulu. Seluruh langkah dan syarat pembuatan akun sudah dijelaskan dengan detail di laman seleksi PPGB, termasuk sebuah persyaratan yang mengharuskan para pelamar untuk memiliki akun Telegram.
Nantinya bagian HRD akan memasukkan seluruh akun telegram pelamar kerja di grup khusus Seleksi PPGB 2019. Grup tersebut digunakan HRD sebagai media utama untuk berbagi seluruh informasi Seleksi PPGB 2019, sekaligus sebagai tempat berinteraksi (tanya-jawab) dengan para pelamar kerja.
Kembali kepada proses pengunggahan berkas-berkas lamaran kerja. Kalau sudah diunggah semua, yang perlu dilakukan, ya, hanya menunggu dan banyak-banyak berdoa agar dinyatakan lolos ke tahap seleksi selanjutnya.
Oh ya, satu lagi yang perlu diperhatikan. Bagi para pelamar kerja yang lolos dari tahap seleksi administrasi, bisa jadi mereka akan ditempatkan HRD untuk mengikuti seleksi di posisi yang berbeda dengan posisi yang dilamar pada awal registrasi.
Salah satu teman saya yang mendaftar pada PPGB tahun 2018 sebagai sebagai staf HRD, namun dia justru diloloskan untuk mengikuti seleksi sebagai guru IPA.
Sebagai catatan, latar pendidikan teman saya memang IPA, jadi sepertinya hal itulah yang membuat HRD meloloskannya untuk mengikuti tahapan seleksi selanjutnya sebagai guru IPA. Tapi bisa juga HRD akan mempertimbangkan hal lain, selain latar belakang pendidikan. Who knows?

Sunday, 20 January 2019

Review: Spotlight (2016)


Poster Spotlight/imdb.com

Secara sederhana, kerja-kerja jurnalistik bisa dibilang sukses jika karya yang dihasilkan mampu menggerakan hati dan juga raga masyarakat secara luas. Tahun 2002 menjadi salah satu tahun yang bersejarah bagi dunia jurnalistik Kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.
Sebab The Boston Globe (selanjutnya dibaca The Globe), salah satu perusahaan surat kabar di sana, melalui tim Spotlight-nya, sukses menerbitkan artikel yang berisi pengungkapan salah satu skandal terbesar di kota tersebut: Pencabulan anak-anak oleh para pastur.
Tidak berselang lama setelah The Globe menerbitkan artikel tersebut, dering telepon di kantor tim Spotlight tidak ada habisnya. Panggilan-panggilan itu berasal dari para korban (yang sekarang sudah dewasa) yang pada akhirnya tergerak untuk melaporkan kasus pelecehan seksual yang pernah mereka alami ketika masih anak-anak.
Mengejutkannya, panggilan-panggilan tersebut tidak terbatas berasal dari wilayah Boston saja, tapi juga sampai kepada wilayah-wilayah di luar wilayah negara bagian Massachusetts, dan bahkan sampai di beberapa wilayah di luar Amerika Serikat.
Pada poin ini maka tidak berlebihan, jika banyak pihak yang menyebut, bahwa The Globe, melalui tim Spotlight, pada saat itu telah berhasil mengungkap salah satu kasus skandal terbesar di dunia.
---
Spotlight merupakan tim liputan berita investigasi yang terdiri dari 4 jurnalis dari koran harian The Globe yang bermarkas di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.
Demi meningkatkan minat baca koran The Globe, Marty Baron (Liev Schreiber), seorang editor baru di The Globe, berpendapat bahwa tidak ada jalan lain selain meliput sebuah peristiwa secara mendalam yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat Boston.
Didorong oleh hal itu, maka dalam sebuat pertemuan di hari pertamanya bekerja, Baron langsung menyarankan untuk lebih jauh menindak lanjuti kolom Eileen McNamara (salah satu kolumnis di The Globe) soal kasus seorang pastur yang mencabuli 80 orang anak di bawah umur di Kota Boston.
Kasus pencabulan pastur terhadap anak-anak sebenarnya adalah kasus yang sudah mulai ditulis dari tahun 90-an, dan sampai tahun 2002, sudah beberapa kali ceritanya diangkat di koran The Globe. Namun Baron menilai itu semua belum cukup. Dia menginginkan hasil liputan yang jauh lebih mendalam daripada sekedar liputan yang sifatnya harian.
Dia percaya pengungkapan kembali kasus tersebut secara lebih mendalam dapat secara langsung berdampak terhadap kehidupan dan cara pandang masyarakat Boston. Sebuah keputusan yang sangat berani, sekaligus terlalu beresiko, menurut orang-orang di The Globe pada saat itu.
Lebih jauh lagi, dia menginginkan The Globe mampu memunculkan bukti-bukti konkrit yang mengatakan bahwa Kardinal selama ini justru menyembunyikan kasus pencabulan anak-anak oleh Pastur dari masyarakat Boston ke permukaan.
Baron pun memilih tim Spotlight untuk melakukan semua tugas tersebut.


Tim Spotlight
---
Sebagai film bergenre misteri, sudah seharusnya film Spotlight (Spotlight) mampu memelihara kestabilan rasa penasaran penonton terhadap cerita di dalamnya. Selan itu, Spotlight juga dituntut untuk mampu menghadirkan kejutan-kejutan besar di setiap potongan misteri yang terungkap. Bahkan dalam level yang lebih tinggi, film misteri terbaik adalah film yang tidak membiarkan adrenalin penasaran penonton turun, meski secuil.
Dan dengan percaya diri saya mengatakan, Spotlight berhasil melakukan itu semua.
Spotlight mampu menstabilkan rasa penasaran penonton di level tinggi sejak film baru memasuki adegan-adegan awal. Adegan percakapan singkat antara seorang pastur dan seorang ibu di sebuah kantor polisi menjadi titik awal cerita, sekaligus menjadi titik awal rasa penasaran yang dicoba ditransfer film kepada penonton.
Secara personal, usaha tersebut berhasil memicu rasa penasaran saya tentang konflik seperti apa yang sebenarnya akan disajikan oleh Spotlight. Sensasinya kurang lebih sama dengan saat menyaksikan The Equalizer.
Rasa penasaran yang sudah dibangun tidak dibiarkan menggantung terlalu lama. Dalam waktu yang hanya sekitar 15 menit setelah film diputar, Spotlight sudah menjawab rasa penasaran tersebut secara inplisit melalui dialog-dialog antar tokoh. Dan dari sana pula, saya sudah bisa memprediksi ke mana jalan cerita Spotlight akan mengalir.
Menariknya, meski sudah mampu diprediksi dengan cukup jelas, tidak lantas membuat jalan cerita Spotlight menjadi membosankan. Karena ini film misteri, masih banyak ruang penuh kejutan yang sudah disiapkan oleh film. Dalam kasus Spotlight, ruang penuh kejutan tersebut tentu saja dalam bentuk pengungkapan bukti-bukti melalu proses-proses investigasi tim Spotlight terhadap kasus pencabulan anak oleh para pastur.
Proses-proses investigasi, seperti rapat dalam menentukan kasus yang akan diangkat, penelusuran para korban dan pelaku melalui berbagai sumber, lobying dan wawancara pihak-pihak yang dinilai terlibat, pencarian dokumen-dokumen resmi terkait, pengecaman oleh beberapa pihak, sampai kepada proses bagaimana usaha para jurnalis dalam mengorek setiap detail petunjuk dari para narasumber yang cenderung menutup diri untuk bicara, semua itu dihadirkan secara lengkap dan (seperti yang dibilang sebelumnya) full of shockness.
Spotlight juga mampu membangun emosi dengan sangat elegan. Maksudnya, rasa emosi tersebut tidak dibangun melalui adegan tangis, teriak marah, sedih yang berlebih, ataupun bentuk adegan dramatis mainstream yang berlebih lainnya, namun dalam sebuah formula yang justru jauh lebih mengena daripada itu semua.
Bayangkan saat kita tertimpa fakta-fakta menyakitkan di siang bolong yang tidak pernah terbesit sedikitpun dalam benak akan terjadi, dan kita yang seharusnya bisa mencegah atau menghindarinya, justru terlambat menyadari. Dan sampai di titik tertentu, kita menyesali apa yang sudah terjadi. Nah, kurang lebih bentuk emosi demikianlah yang dirasakan para jurnalis. And somehow, saya juga merasakan apa yang mereka rasakan.
Para jurnalis berkali-kali dibuat syok, nyesek, atas potongan-potongan petunjuk yang berhasil mereka ungkap. Di sepanjang film, penonton banyak disuguhkan adegan tertegun dari para tokoh yang seakan tidak percaya bahwa pelecehan seksual terhadap anak benar-benar sudah banyak terjadi di lingkungan di sekitar mereka tinggal, dan semua orang, termasuk institusi gereja sampai pihak berwajib, justru memilih bungkam.
It’s like there are so many anger things di dalam dada para jurnalis, but something that invisible hold them back inside.
Menariknya, rasa tertegun, nyesek, syok, benci, marah yang tertahan, dan rasa-rasa campur aduk lainnya yang begitu emosional dari para tokoh terasa sangat tulus (genue), seakan mereka mengalami langsung kejadian-kejadian di film. That’s why I love this movie so much. Dari poin tersebut sangat dirasakan, bahwa pemilihan pemeran menjadi salah satu penentu keberhasilan sebuah film.
Berbicara soal para pemeran yang dipilih dalam Spotlight, semuanya sukses dalam memerankan karakter seorang jurnalis.


Standing applause untuk Mark Ruffalo!
Di dalam deretan nama pemeran, ada nama Mark Ruffalo (sebagai Mickael Rezendes), yang mengubah nada, dan logat bicaranya. Suara yang dikeluarkan pun begitu alami, sehingga saya berani berasumsi bahwa orang-orang yang pertama kali melihatnya berperan melalui Spotlight, langsung menilai bahwa memang begitulah cara dia bicara.
Bahkan seiring berjalannya film, saya lebih menyukai karakternya sebagai jurnalis dibanding sebagai karakter-karakternya di film yang lain, termasuk sebagai Dr. Bruce Banner di film The Avengers. Oleh karena itu, saya rasa tidak berlebihan jika saya memberikan standing applause pada kemampuan perannya di Spotlight.
Lalu ada Rachel McAdams (sebagai Sacha Pefeiffer). Saya mulai memperhatikan kemampuan berperannya melalui film Southpaw. Namun di sana dia tidak mendapat banyak sorot kamera, sehingga saya tidak melihat ada yang istimewa darinya. Namun tidak demikian di Spotlight. Spotlight menyediakan banyak sorot kamere kepadanya, dan sekaligus memberikan ruang yang luas untuk berekspresi.
Hasilnya, dia sukses menjadi seorang jurnalis dengan karakter yang saya suka, mampu menggunakan nada bicara dan mimik wajah sesuai dengan situasi, dan dengan siapa dia bicara. Saya sangat menyukai kebiasannya yang suka memotong keterangan-keterangan para narasumber yang bertele-tele dengan cara menghunuskan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Seperti yang dilakukannya pada Billy Crudup (Sebagai Erin McCheilsh), salah satu pengacara yang membela para pastur.
Di tempat yang berbeda, saya sangat menyukai the way she shows her emphatie to the victims. Dan dari sana, dia bisa memabangun hubungan personal yang begitu kuat dengan para korban. Sampai pada akhirnya, dia bisa memperoleh banyak keterangan dari para korban.
Somehow dengan melihatnya, saya jadi teringat kepada beberapa reporter berita nasioanal di Indonesia yang tidak memperlihatkan simpatinya sedikitpun kepada narasumber selama proses wawancara dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tidak bermutu. Biasanya terjadi pada kasus-kasus yang sampai menghilangkan nyawa seseorang.    
She reminds me with Najwa Shihab. I think they have similar style in interviewing people
Anyway, kembali ke soal para pemeran. Untuk memuluskan kerja tim Spotlight, diperlukan seorang jurnalis senior yang selain dinilai paling cakap dalam investigasi, sekaligus mampu menjadi pemimpin. Peran itu dimainkan dengan apik oleh Michael Keaton (sebagai Walter Robbinson). Meski dia adalah pemain yang sudah sangat senior, saya baru benar-benar memperhatikannya setelah dia bermain peran di Spotlight. 2 tahun setelah bermain di Spotlight, dia mengambil peran sebagai The Vulture di Spiderman Home Coming.
Total, saya hanya memerhatikannya di 2 film tersebut. Namun lagi-lagi, saya lebih menyukai perannya sebagai jurnalis, editor, sekaligus pelobi yang handal dari sebuah perusahaan surat kabar, ketimbang seorang karakter villain bawah tanah yang berambisi membangun gudang senjata bawah tanahnya sendiri.
Satu lagi ada Brian James, satu-satunya aktor yang berperan sebagai jurnalis dalam tim Spotlight yang samasekali asing bagi saya. Dia yang bertanggungjawab dalam pengumpulan data-data temuan selama proses investigasi. Porsi keterlibatan di dalam film memang kecil, namun di dalam peliputan yang asli, dijelaskan bahwa dialah yang paling bekerja keras dalam membangun pusat informasi (database) dalam kasus ini.
Banyak nama-nama pemeran besar lainnya dalam film Spotligh, seperti Stanley Tucci (sebagai Mitchell Barabedian) dan dan Liev Schreiber (sebagai Marty Baron). Hal ini saya rasa memang menjadi salah satu hal yang ingin ditonjolkan oleh sang sutradara Tom McCarthy, karena Spotlight diharapkan akan menjadi proyek besar.
Hal itu diperkuat dengan Tom McCarthy dan tim yang membutuhkan waktu 4 tahun untuk riset, dan biaya 20 juta dollar dalam rangka penggarapan Spotlight. Penanaman modal tersebut pada akhirnya berbuah manis, setelah Spotlight mampu meraih total keuntungan sebesar 98,3 juta dollar, dan yang paling prestis, tentu saja berhasil terpilih sebagai Best Picture Oscar tahun 2016.
Dengan sekitar 120 menit durasinya, tentu saja Spotlight tidak mampu menunjukkan secara detail seluruh proses investigasi. Terdapat beberapa kisah liputan yang tidak dihadirkan pada film. Namun dengan penggarapan yang sangat serius, dan kemampuan orang-orang yang terlibat, seluruh proses investigasi oleh tim Spotlight yang tervisualkan melelaui sebuah film, sudah sangat cukup terwakilkan. Bahkan saya sendiri, at some points merasa, bahwa tidak ada yang terlewat dari sebuah proses investigasi yang sudah mereka lakukan.

Friday, 24 August 2018

Review: ReLife (2016)

poster relife
Poster ReLife/esty.com 

Jepang sepertinya tidak akan pernah menemukan titik buntu dalam menggali sisi-sisi remeh dalam hidup, untuk selanjutnya disajikan dalam bentuk narasi cerita anime yang menarik. Seperti yang mereka lakukan tahun 2016 lalu, melalui serial Anime ReLife. Melalui ReLife, Jepang mencoba menyinggung soal bagaimana orang-orang secara tidak sadar seringkali mengabaikan kesempatan-kesempatan yang hadir di saat sekarang, yang celakanya seringkali berdampak buruk di masa mendatang.
ReLife berfokus pada cerita seorang laki-laki Jepang berusia 27 tahun, Arata Kaizaki, yang mengundurkan diri dari pekerjaannya setelah baru 3 bulan bekerja. Catatan buruk tersebut otomatis kerap menyulitkannya memperoleh pekerjaan yang baru. Alhasil dia hanya mampu memperoleh pekerjaan paruh waktu, sebagai kasir di sebuah mini market. Tidak memiliki pekerjaan tetap di usia yang sudah 27 tahun, di negara semaju Jepang, jelas merupakan noda. Jika teman-teman satu koleganya mengetahui hal itu, maka dia harus bersiap menanggung rasa malu seumur hidup.
Ada yang pernah bilang, bahwa sebenarnya manusia lebih takut kepada rasa malu, dibanding dengan kematian. Dan itu juga yang dirasakan Kaizaki pada saat itu. Demi menghindari rasa malu, dia rela berpura-pura menjadi pegawai kantoran di hadapan para koleganya. Dia bahkan tidak menghentikan kebiasaan nongkrongnya bersama mereka di jam-jam malam sepulang dari kantor demi menyempurnakan kebohongannya. Dengan mengenakan setelan jas khas orang kantoran, dia berbincang soal hari-harinya di kantor layaknya pegawai kantor sungguhan.
Hanya mengandalkan upah dari bekerja paruh waktu sebagai penopang hidup seorang laki-laki berusia 27 tahun tidaklah pernah cukup, terlebih jika hidup di Jepang yang terkenal dengan biaya hidupnya yang tinggi. Karenanya, sampai saat itu Arata masih mendapat suntikan dana dari ibunya. Namun di usianya yang ke 27 sekarang, melalui panggilan telelpon di suatu malam selepas dia mabuk, ibunya memutuskan untuk tidak membiayayainya lagi. Alasannya sederhana: karena dia sudah berusia 27 tahun. 
Namun tidak lama setelah itu, dia dihampiri oleh Yoake Ryo, yang memperkenalkan diri sebagai petugas dari laboratorium ReLife. Tanpa perlu memperkenalkan diri terlebih dulu, Ryo langsung menawari Arata untuk menjadi subjek percobaan ReLife selama setahun penuh. Tentu siapa saja akan ragu untuk menerima tawaran sebagai kelinci percobaan, terlebih tawaran itu berasal dari orang asing.
Namun dengan jaminan bahwa selama setahun penuh semua biaya hidup subjek akan ditanggung oleh laboratorium ReLIfe, serta ditambah memiliki kesempatan dipromosikan untuk bekerja di tempat yang sama, maka keragu-raguan Arata di awal tadi hilang begitu saja. Dengan penuh percaya diri, Arata menandatangani kontrak yang disodorkan. 
Dalam percobaan ReLife, subjek penelitian yang dipilih adalah orang-orang berusia dewasa yang dinilai memiliki kepribadian baik, lurus, tidak neko-neko, namun memiliki masalah pelik dalam hidupnya. Atau dalam kasus Kaizaki: belum memiliki pekerjaan tetap di usia 27 tahun. Selanjutnya (nah ini yang menarik), selama setahun penuh subjek dituntut untuk menjalani kembali kehidupan remaja mereka, tepatnya masa-masa Sekolah Menengah Atas (SMA). Mengapa masa SMA? Karena masa SMA dinilai sebagai salah satu reaching point terpenting orang-orang dalam menentukan arah hidup mereka.
Di sana mereka dituntut untuk memaksimalkan setiap momen dan kesempatan untuk nantinya dapat memperbaiki kehidupan mereka di masa sekarang. It’s like having back to the past, tapi dengan orang-orang dan lingkungan yang benar-benar baru dikenal subjek.
Lalu demi menyamarkan tubuh dewasa si subjek, laboratorium ReLife telah menyiapkan sebuah pil yang memiliki efek merubah tubuh seorang dewasa menjadi tubuh remajanya. Dan tentu saja perubahan itu tidak mempengaruhi kemampuan akal dan keadaan psikologis mereka sebagai orang dewasa. Hampir mirip dengan pil yang diminumkan Organisasi Hitam kepada Sinichi Kudo.
Dalam setahun penuh, Kaizaki Arata akan kembali menjadi anak SMA, dan memulai kembali kehidupan remajanya bersama anak-anak SMA yang baru akan dikenalnya. Dengan harapan, dia mampu memaksimalkan semua momen dan kesempatan selama di SMA untuk memperbaiki kehidupannya yang (bisa dibilang) suram untuk seorang laki-laki Jepang berusia 27 tahun.
fisik kaizaki arata saat dewasa dan remaja
Perbedaan fisik Kaizai tidak begitu mencolok setelah kembali menjadi remaja/aminoapps.com

Dilihat dari konsep penceritaan secara keseluruhan, penulisan cerita ReLife terbilang sederhana, terlebih jika dilihat dari jumlah episodenya yang tidak banyak: hanya 13 episode, ditambah 4 episode versi OVA-nya. Namun hal itu tidak membuat ReLife kehilangan daya jelajah cerita yang dimilikinya. Justru ReLife mampu mengeksplor cerita yang sederhana itu menjadi lebih emosional.
Salah satu kekuatan penceritaan ReLife adalah pada jumlah karakternya yang tidak banyak, serta cakupan ruang konflik yang tidak terlalu muluk. Hal itu secara sadar mampu membawa kita untuk terjun ke dalam konflik masing-masing karakter secara mendalam. Di sisi lain, Arata yang ditempatkan sebagai karakter utama, tidak melulu menjadi center of attention di setiap episode. Justru dia yang lebih sering menjadi mediator di antara konflik karakter-karakter yang lain. Dengan kata lain, setiap karakter di ReLife memiliki arc-nya masing-masing.
Seperti yang tersaji di bagian awal cerita. Setelah di episode pertama kita diperkenalkan dengan gambaran umum cerita ReLife, dan (tentu saja) karakter-karakter yang terlibat di dalamnya, episode-episode selanjutnya akan membawa kita kepada pendalaman personal, serta cakupan konflik masing-masing karakter.
Konflik antara Kariu dengan Hishiro, misalnya, yang mendapat porsi besar di bagian awal cerita ReLife (tepatnya di episode ke-2 sampai ke-5). Sepanjang penceritaan tersebut, pembangunan personal Kariu yang pekerja keras namun keras kepala, serta Hishiro yang lemah dalam bersosialisasi, mampu dibangun dengan perlahan, dan tidak terlihat keburu-buruan samasekali di sana. Dari sana kita bisa mengenal mereka layaknya kita menapaki secara bertahap proses-proses mengenal orang lain di kehidupan nyata: slowbut when it reachs a particular point, kita sudah merasa dekat dengan mereka.  
Kemunculan Kaizaki di dalam konflik Kariu-Misuzane, seperti yang sudah dijelaskan, tidak lebih dari seorang penengah. Meski kemunculannya terbilang memiliki porsi yang besar, dan berperan vital dalam twist penyelesaian konflik mereka, perhatian kita (tetap) tidak akan terlepas pada dua karakter tersebut. Selama pengembangan cerita pun kita akan selalu dibuat penasaran bukan oleh peran apa yang akan dimainkan Kaizaki, melainkan oleh pergerakan masing-masing karakter yang sebenarnya sedang berkonflik, atau dalam contoh ini: Kariu dan Misuzane. Ya, selagi konflik masih belum menemukan twist-nya, mereka berdua lah yang sukses menjadi center of attention.
Dari sana, saya melihat semacam terdapat pola penceritaan di dalam ReLife. Pola penceritaan yang sama yang selalu digunakan oleh penulis cerita dalam memperkenalkan karakter-karakter ReLife yang lain. Melalui pola tersebut, proses pendalaman personal mereka terbilang berhasil dikembangkan dengan halus dan perlahan. And as the story goes, pada suatu titik tertentu, dengan sendirinya kita tidak hanya merasa mengenal mereka, namun juga bersimpati kepada mereka.
karakter-karakter relife
Karakter-Karakter ReLife/hdwallpaperim.com

Cerita ReLife yang mengambil latar belakang kehidupan remaja SMA di Jepang benar-benar bisa dinikmati dengan dihadirkannya karakter-karakter yang memiliki pembawaan yang begitu menyenangkan (likeable), dan terasa alami (polos) as a teenager of senior high. Konflik-konflik yang dihadirkan di antara mereka juga sebenarnya hanya berkutat pada hal-hal remeh, jika dilihat dari kacamata orang dewasa.
Seperti saat Kariu menyukai Oga (salah satu karakter lain), namun Oga sama sekali tidak peka dengan keadaan tersebut. Atau saat Kariu merasa emosional saat tidak dianggap oleh Misuzane sebagai saingannya dalam perebutan posisi ketua kelas. Ada juga soal kecemburuan beberapa karakter saat orang-orang yang disukainya dekat dengan orang lain. Dan meski terdapat beberapa scene melow dramatis, semuanya mampu berkembang dan tergambar begitu alami untuk ukuran kehidupan masa-masa SMA, sehingga tidak menjadikan ReLife sebagai anime yang terlalu cengeng dan berlebihan.
Perlu diingat, bahwa beberapa anime cenderung berlebihan dalam menggambarkan karakter-karakternya. Banyak karakter Anime yang digambarkan sebagai seorang bocah SD atau SMP, namun tindakan dan substansi dialog yang mereka bawa terlalu dewasa. Hal itu nyaris tidak ditemukan di ReLife. Purely, dialog dan monolog khas orang dewasa hanya keluar dari karakter-karakter yang notabenenya adalah orang dewasa (Kaizaki, Yoake, dan Onoya). Beberapa scene yang menghadirkan keheranan beberapa karakter soal Arata yang mampu bersikap lebih dewasa daripada yang lain bahkan dihadirkan untuk memperkuat unsur tersebut.
kaizaki arata
Kaizaki Arata menjadi siswa paling peka di kelasnya

Just for your information, anime ReLife sebenarnya adalah hasil adaptasi dari manga dengan judul yang sama. Versi manganya sendiri terdiri dari 222 chapter, sedangkan animenya hanya berdurasi 13 episode ditambah 4 episode dalam versi OVA (total 17 episode). Jika dilihat secara kasar, maka perbandingan jumlah tersebut (222 dengan 17) jauh dari proporsional.
Dan memang betul demikian. Jadi menurut beberapa sumber, disebabkan oleh banyak faktor, terdapat banyak bagian cerita dalam versi manga yang dipercepat/dipotong saat dituangkan ke dalam versi animenya, terutama di empat episode versi OVA. Namun tetap, masing-masing versi cerita masih diakhiri dengan ending yang sama.
Berbicara soal ending cerita ReLife. Agaknya ending ReLife memiliki sedikit kemiripan dengan  ending dari Kimi no Na wa. Namun yang membedakannya adalah sang penulis ReLife agaknya tidak mau meninggalkan jejak cerita yang menggantung. Dengan kata lain, dia menginginkan ReLife benar-benar memberikan kesan end of story kepada para penikmatnya. Hasilnya bisa dilihat di versi manga maupun animenya, dia benar-benar mengakhiri cerita ReLife dengan ending yang sangat gamblang.
Namun jika saya sedikit membandingkan, maka ending ReLife bisa dikatakan tidak se-powerfull ending yang disajikan oleh Kimi no Na Wa, terutama dalam aspek leaving something behind audience’s mind. Kebanyakan orang yang selesai menikmati Kimi no Na Wa, selain akan teringat dengan epic­­­nya seluruh aspek penceritaannya, mereka juga akan selalu membicarakan soal ending Kimi no Na Wa yang tersaji bias.
“Kenapa, sih, endingnya ngegantung kayak gitu? Kejadian apa nih yang bakal dialami sama si Mitsuha sama si Taki setelah mereka saling tegur sapa di ending-nya? Apa mereka bakal menjadi sepasang kekasih?” Dialog-dialog penuh rasa penasaran semacam itu lah yang cenderung akan muncul ketika orang-orang mulai membicarakan Kimi no Na Wa. Dan itu, menurut saya adalah kelebihan Ki mi no Na Wa yang tidak dimiliki oleh ReLife.
Membandingkan kedua anime tersebut pada dasarnya sudah tidak apple to apple sejak awal sebelum memasuki meja produksi. Kimi no Na Wa yang merupakan anime versi movie tentu memiliki konsep penceritaan yang jauh lebih matang dibanding anime serial seperti ReLife. Namun dalam hal ini, saya rasa penulis ReLife seharusnya mampu mengembangkan ending yang berdampak sama dengan Kimi no Na Wa. Dengan begitu, ReLife akan mengalami sensasi serupa dengan Kimi no Na Wa: selalu menjadi bahan pebicaraan meanrik banyak orang. And of course, it will be leaving more impression in audience’s mind.
ending relife
Ending Relife

Sebelum menyaksikan ReLife, saya tidak memiliki referensi secuil pun tentang ceritanya, kecuali satu: romance. Secara otomatis, saya mulai bertanya “Romance seperti apa yang akan tersaji di dalam ReLife?” Pertanyaan itu secara perlahan mulai terjawab setelah meyaksikannya secara utuh. Namun ReLife bukan melulu soal romance, namun juga soal keberanian dalam mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup, yang tanpa sadar akan membawa seseorang kepada titik capaian tertentu dalam hidup. 
ReLife secara sadar akan membawa kita pada ingatan-ingatan masa silam yang pada akhirnya sudah membawa kita pada pencapaian hidup di titik sekarang. Namun di sisi lain, ingatan-ingatan tersebut seringkali bercampur dengan banyak kesia-siaan dalam hidup yang tanpa sadar sudah kita lakukan. Dan setelahnya, kita akan dihadapkan dua pilihan: Terus berkubang pada lumpur penyesalan masa silam, atau memilih bergerak untuk memperbaikinya. 
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html