Sunday, 20 January 2019

Review: Spotlight (2016)


Poster Spotlight/imdb.com

Secara sederhana, kerja-kerja jurnalistik bisa dibilang sukses jika karya yang dihasilkan mampu menggerakan hati dan juga raga masyarakat secara luas. Tahun 2002 menjadi salah satu tahun yang bersejarah bagi dunia jurnalistik Kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.
Sebab The Boston Globe (selanjutnya dibaca The Globe), salah satu perusahaan surat kabar di sana, melalui tim Spotlight-nya, sukses menerbitkan artikel yang berisi pengungkapan salah satu skandal terbesar di kota tersebut: Pencabulan anak-anak oleh para pastur.
Tidak berselang lama setelah The Globe menerbitkan artikel tersebut, dering telepon di kantor tim Spotlight tidak ada habisnya. Panggilan-panggilan itu berasal dari para korban (yang sekarang sudah dewasa) yang pada akhirnya tergerak untuk melaporkan kasus pelecehan seksual yang pernah mereka alami ketika masih anak-anak.
Mengejutkannya, panggilan-panggilan tersebut tidak terbatas berasal dari wilayah Boston saja, tapi juga sampai kepada wilayah-wilayah di luar wilayah negara bagian Massachusetts, dan bahkan sampai di beberapa wilayah di luar Amerika Serikat.
Pada poin ini maka tidak berlebihan, jika banyak pihak yang menyebut, bahwa The Globe, melalui tim Spotlight, pada saat itu telah berhasil mengungkap salah satu kasus skandal terbesar di dunia.
---
Spotlight merupakan tim liputan berita investigasi yang terdiri dari 4 jurnalis dari koran harian The Globe yang bermarkas di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.
Demi meningkatkan minat baca koran The Globe, Marty Baron (Liev Schreiber), seorang editor baru di The Globe, berpendapat bahwa tidak ada jalan lain selain meliput sebuah peristiwa secara mendalam yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat Boston.
Didorong oleh hal itu, maka dalam sebuat pertemuan di hari pertamanya bekerja, Baron langsung menyarankan untuk lebih jauh menindak lanjuti kolom Eileen McNamara (salah satu kolumnis di The Globe) soal kasus seorang pastur yang mencabuli 80 orang anak di bawah umur di Kota Boston.
Kasus pencabulan pastur terhadap anak-anak sebenarnya adalah kasus yang sudah mulai ditulis dari tahun 90-an, dan sampai tahun 2002, sudah beberapa kali ceritanya diangkat di koran The Globe. Namun Baron menilai itu semua belum cukup. Dia menginginkan hasil liputan yang jauh lebih mendalam daripada sekedar liputan yang sifatnya harian.
Dia percaya pengungkapan kembali kasus tersebut secara lebih mendalam dapat secara langsung berdampak terhadap kehidupan dan cara pandang masyarakat Boston. Sebuah keputusan yang sangat berani, sekaligus terlalu beresiko, menurut orang-orang di The Globe pada saat itu.
Lebih jauh lagi, dia menginginkan The Globe mampu memunculkan bukti-bukti konkrit yang mengatakan bahwa Kardinal selama ini justru menyembunyikan kasus pencabulan anak-anak oleh Pastur dari masyarakat Boston ke permukaan.
Baron pun memilih tim Spotlight untuk melakukan semua tugas tersebut.


Tim Spotlight
---
Sebagai film bergenre misteri, sudah seharusnya film Spotlight (Spotlight) mampu memelihara kestabilan rasa penasaran penonton terhadap cerita di dalamnya. Selan itu, Spotlight juga dituntut untuk mampu menghadirkan kejutan-kejutan besar di setiap potongan misteri yang terungkap. Bahkan dalam level yang lebih tinggi, film misteri terbaik adalah film yang tidak membiarkan adrenalin penasaran penonton turun, meski secuil.
Dan dengan percaya diri saya mengatakan, Spotlight berhasil melakukan itu semua.
Spotlight mampu menstabilkan rasa penasaran penonton di level tinggi sejak film baru memasuki adegan-adegan awal. Adegan percakapan singkat antara seorang pastur dan seorang ibu di sebuah kantor polisi menjadi titik awal cerita, sekaligus menjadi titik awal rasa penasaran yang dicoba ditransfer film kepada penonton.
Secara personal, usaha tersebut berhasil memicu rasa penasaran saya tentang konflik seperti apa yang sebenarnya akan disajikan oleh Spotlight. Sensasinya kurang lebih sama dengan saat menyaksikan The Equalizer.
Rasa penasaran yang sudah dibangun tidak dibiarkan menggantung terlalu lama. Dalam waktu yang hanya sekitar 15 menit setelah film diputar, Spotlight sudah menjawab rasa penasaran tersebut secara inplisit melalui dialog-dialog antar tokoh. Dan dari sana pula, saya sudah bisa memprediksi ke mana jalan cerita Spotlight akan mengalir.
Menariknya, meski sudah mampu diprediksi dengan cukup jelas, tidak lantas membuat jalan cerita Spotlight menjadi membosankan. Karena ini film misteri, masih banyak ruang penuh kejutan yang sudah disiapkan oleh film. Dalam kasus Spotlight, ruang penuh kejutan tersebut tentu saja dalam bentuk pengungkapan bukti-bukti melalu proses-proses investigasi tim Spotlight terhadap kasus pencabulan anak oleh para pastur.
Proses-proses investigasi, seperti rapat dalam menentukan kasus yang akan diangkat, penelusuran para korban dan pelaku melalui berbagai sumber, lobying dan wawancara pihak-pihak yang dinilai terlibat, pencarian dokumen-dokumen resmi terkait, pengecaman oleh beberapa pihak, sampai kepada proses bagaimana usaha para jurnalis dalam mengorek setiap detail petunjuk dari para narasumber yang cenderung menutup diri untuk bicara, semua itu dihadirkan secara lengkap dan (seperti yang dibilang sebelumnya) full of shockness.
Spotlight juga mampu membangun emosi dengan sangat elegan. Maksudnya, rasa emosi tersebut tidak dibangun melalui adegan tangis, teriak marah, sedih yang berlebih, ataupun bentuk adegan dramatis mainstream yang berlebih lainnya, namun dalam sebuah formula yang justru jauh lebih mengena daripada itu semua.
Bayangkan saat kita tertimpa fakta-fakta menyakitkan di siang bolong yang tidak pernah terbesit sedikitpun dalam benak akan terjadi, dan kita yang seharusnya bisa mencegah atau menghindarinya, justru terlambat menyadari. Dan sampai di titik tertentu, kita menyesali apa yang sudah terjadi. Nah, kurang lebih bentuk emosi demikianlah yang dirasakan para jurnalis. And somehow, saya juga merasakan apa yang mereka rasakan.
Para jurnalis berkali-kali dibuat syok, nyesek, atas potongan-potongan petunjuk yang berhasil mereka ungkap. Di sepanjang film, penonton banyak disuguhkan adegan tertegun dari para tokoh yang seakan tidak percaya bahwa pelecehan seksual terhadap anak benar-benar sudah banyak terjadi di lingkungan di sekitar mereka tinggal, dan semua orang, termasuk institusi gereja sampai pihak berwajib, justru memilih bungkam.
It’s like there are so many anger things di dalam dada para jurnalis, but something that invisible hold them back inside.
Menariknya, rasa tertegun, nyesek, syok, benci, marah yang tertahan, dan rasa-rasa campur aduk lainnya yang begitu emosional dari para tokoh terasa sangat tulus (genue), seakan mereka mengalami langsung kejadian-kejadian di film. That’s why I love this movie so much. Dari poin tersebut sangat dirasakan, bahwa pemilihan pemeran menjadi salah satu penentu keberhasilan sebuah film.
Berbicara soal para pemeran yang dipilih dalam Spotlight, semuanya sukses dalam memerankan karakter seorang jurnalis.


Standing applause untuk Mark Ruffalo!
Di dalam deretan nama pemeran, ada nama Mark Ruffalo (sebagai Mickael Rezendes), yang mengubah nada, dan logat bicaranya. Suara yang dikeluarkan pun begitu alami, sehingga saya berani berasumsi bahwa orang-orang yang pertama kali melihatnya berperan melalui Spotlight, langsung menilai bahwa memang begitulah cara dia bicara.
Bahkan seiring berjalannya film, saya lebih menyukai karakternya sebagai jurnalis dibanding sebagai karakter-karakternya di film yang lain, termasuk sebagai Dr. Bruce Banner di film The Avengers. Oleh karena itu, saya rasa tidak berlebihan jika saya memberikan standing applause pada kemampuan perannya di Spotlight.
Lalu ada Rachel McAdams (sebagai Sacha Pefeiffer). Saya mulai memperhatikan kemampuan berperannya melalui film Southpaw. Namun di sana dia tidak mendapat banyak sorot kamera, sehingga saya tidak melihat ada yang istimewa darinya. Namun tidak demikian di Spotlight. Spotlight menyediakan banyak sorot kamere kepadanya, dan sekaligus memberikan ruang yang luas untuk berekspresi.
Hasilnya, dia sukses menjadi seorang jurnalis dengan karakter yang saya suka, mampu menggunakan nada bicara dan mimik wajah sesuai dengan situasi, dan dengan siapa dia bicara. Saya sangat menyukai kebiasannya yang suka memotong keterangan-keterangan para narasumber yang bertele-tele dengan cara menghunuskan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Seperti yang dilakukannya pada Billy Crudup (Sebagai Erin McCheilsh), salah satu pengacara yang membela para pastur.
Di tempat yang berbeda, saya sangat menyukai the way she shows her emphatie to the victims. Dan dari sana, dia bisa memabangun hubungan personal yang begitu kuat dengan para korban. Sampai pada akhirnya, dia bisa memperoleh banyak keterangan dari para korban.
Somehow dengan melihatnya, saya jadi teringat kepada beberapa reporter berita nasioanal di Indonesia yang tidak memperlihatkan simpatinya sedikitpun kepada narasumber selama proses wawancara dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tidak bermutu. Biasanya terjadi pada kasus-kasus yang sampai menghilangkan nyawa seseorang.    
She reminds me with Najwa Shihab. I think they have similar style in interviewing people
Anyway, kembali ke soal para pemeran. Untuk memuluskan kerja tim Spotlight, diperlukan seorang jurnalis senior yang selain dinilai paling cakap dalam investigasi, sekaligus mampu menjadi pemimpin. Peran itu dimainkan dengan apik oleh Michael Keaton (sebagai Walter Robbinson). Meski dia adalah pemain yang sudah sangat senior, saya baru benar-benar memperhatikannya setelah dia bermain peran di Spotlight. 2 tahun setelah bermain di Spotlight, dia mengambil peran sebagai The Vulture di Spiderman Home Coming.
Total, saya hanya memerhatikannya di 2 film tersebut. Namun lagi-lagi, saya lebih menyukai perannya sebagai jurnalis, editor, sekaligus pelobi yang handal dari sebuah perusahaan surat kabar, ketimbang seorang karakter villain bawah tanah yang berambisi membangun gudang senjata bawah tanahnya sendiri.
Satu lagi ada Brian James, satu-satunya aktor yang berperan sebagai jurnalis dalam tim Spotlight yang samasekali asing bagi saya. Dia yang bertanggungjawab dalam pengumpulan data-data temuan selama proses investigasi. Porsi keterlibatan di dalam film memang kecil, namun di dalam peliputan yang asli, dijelaskan bahwa dialah yang paling bekerja keras dalam membangun pusat informasi (database) dalam kasus ini.
Banyak nama-nama pemeran besar lainnya dalam film Spotligh, seperti Stanley Tucci (sebagai Mitchell Barabedian) dan dan Liev Schreiber (sebagai Marty Baron). Hal ini saya rasa memang menjadi salah satu hal yang ingin ditonjolkan oleh sang sutradara Tom McCarthy, karena Spotlight diharapkan akan menjadi proyek besar.
Hal itu diperkuat dengan Tom McCarthy dan tim yang membutuhkan waktu 4 tahun untuk riset, dan biaya 20 juta dollar dalam rangka penggarapan Spotlight. Penanaman modal tersebut pada akhirnya berbuah manis, setelah Spotlight mampu meraih total keuntungan sebesar 98,3 juta dollar, dan yang paling prestis, tentu saja berhasil terpilih sebagai Best Picture Oscar tahun 2016.
Dengan sekitar 120 menit durasinya, tentu saja Spotlight tidak mampu menunjukkan secara detail seluruh proses investigasi. Terdapat beberapa kisah liputan yang tidak dihadirkan pada film. Namun dengan penggarapan yang sangat serius, dan kemampuan orang-orang yang terlibat, seluruh proses investigasi oleh tim Spotlight yang tervisualkan melelaui sebuah film, sudah sangat cukup terwakilkan. Bahkan saya sendiri, at some points merasa, bahwa tidak ada yang terlewat dari sebuah proses investigasi yang sudah mereka lakukan.

Friday, 24 August 2018

Review: ReLife (2016)

poster relife
Poster ReLife/esty.com 

Jepang sepertinya tidak akan pernah menemukan titik buntu dalam menggali sisi-sisi remeh dalam hidup, untuk selanjutnya disajikan dalam bentuk narasi cerita anime yang menarik. Seperti yang mereka lakukan tahun 2016 lalu, melalui serial Anime ReLife. Melalui ReLife, Jepang mencoba menyinggung soal bagaimana orang-orang secara tidak sadar seringkali mengabaikan kesempatan-kesempatan yang hadir di saat sekarang, yang celakanya seringkali berdampak buruk di masa mendatang.
ReLife berfokus pada cerita seorang laki-laki Jepang berusia 27 tahun, Arata Kaizaki, yang mengundurkan diri dari pekerjaannya setelah baru 3 bulan bekerja. Catatan buruk tersebut otomatis kerap menyulitkannya memperoleh pekerjaan yang baru. Alhasil dia hanya mampu memperoleh pekerjaan paruh waktu, sebagai kasir di sebuah mini market. Tidak memiliki pekerjaan tetap di usia yang sudah 27 tahun, di negara semaju Jepang, jelas merupakan noda. Jika teman-teman satu koleganya mengetahui hal itu, maka dia harus bersiap menanggung rasa malu seumur hidup.
Ada yang pernah bilang, bahwa sebenarnya manusia lebih takut kepada rasa malu, dibanding dengan kematian. Dan itu juga yang dirasakan Kaizaki pada saat itu. Demi menghindari rasa malu, dia rela berpura-pura menjadi pegawai kantoran di hadapan para koleganya. Dia bahkan tidak menghentikan kebiasaan nongkrongnya bersama mereka di jam-jam malam sepulang dari kantor demi menyempurnakan kebohongannya. Dengan mengenakan setelan jas khas orang kantoran, dia berbincang soal hari-harinya di kantor layaknya pegawai kantor sungguhan.
Hanya mengandalkan upah dari bekerja paruh waktu sebagai penopang hidup seorang laki-laki berusia 27 tahun tidaklah pernah cukup, terlebih jika hidup di Jepang yang terkenal dengan biaya hidupnya yang tinggi. Karenanya, sampai saat itu Arata masih mendapat suntikan dana dari ibunya. Namun di usianya yang ke 27 sekarang, melalui panggilan telelpon di suatu malam selepas dia mabuk, ibunya memutuskan untuk tidak membiayayainya lagi. Alasannya sederhana: karena dia sudah berusia 27 tahun. 
Namun tidak lama setelah itu, dia dihampiri oleh Yoake Ryo, yang memperkenalkan diri sebagai petugas dari laboratorium ReLife. Tanpa perlu memperkenalkan diri terlebih dulu, Ryo langsung menawari Arata untuk menjadi subjek percobaan ReLife selama setahun penuh. Tentu siapa saja akan ragu untuk menerima tawaran sebagai kelinci percobaan, terlebih tawaran itu berasal dari orang asing.
Namun dengan jaminan bahwa selama setahun penuh semua biaya hidup subjek akan ditanggung oleh laboratorium ReLIfe, serta ditambah memiliki kesempatan dipromosikan untuk bekerja di tempat yang sama, maka keragu-raguan Arata di awal tadi hilang begitu saja. Dengan penuh percaya diri, Arata menandatangani kontrak yang disodorkan. 
Dalam percobaan ReLife, subjek penelitian yang dipilih adalah orang-orang berusia dewasa yang dinilai memiliki kepribadian baik, lurus, tidak neko-neko, namun memiliki masalah pelik dalam hidupnya. Atau dalam kasus Kaizaki: belum memiliki pekerjaan tetap di usia 27 tahun. Selanjutnya (nah ini yang menarik), selama setahun penuh subjek dituntut untuk menjalani kembali kehidupan remaja mereka, tepatnya masa-masa Sekolah Menengah Atas (SMA). Mengapa masa SMA? Karena masa SMA dinilai sebagai salah satu reaching point terpenting orang-orang dalam menentukan arah hidup mereka.
Di sana mereka dituntut untuk memaksimalkan setiap momen dan kesempatan untuk nantinya dapat memperbaiki kehidupan mereka di masa sekarang. It’s like having back to the past, tapi dengan orang-orang dan lingkungan yang benar-benar baru dikenal subjek.
Lalu demi menyamarkan tubuh dewasa si subjek, laboratorium ReLife telah menyiapkan sebuah pil yang memiliki efek merubah tubuh seorang dewasa menjadi tubuh remajanya. Dan tentu saja perubahan itu tidak mempengaruhi kemampuan akal dan keadaan psikologis mereka sebagai orang dewasa. Hampir mirip dengan pil yang diminumkan Organisasi Hitam kepada Sinichi Kudo.
Dalam setahun penuh, Kaizaki Arata akan kembali menjadi anak SMA, dan memulai kembali kehidupan remajanya bersama anak-anak SMA yang baru akan dikenalnya. Dengan harapan, dia mampu memaksimalkan semua momen dan kesempatan selama di SMA untuk memperbaiki kehidupannya yang (bisa dibilang) suram untuk seorang laki-laki Jepang berusia 27 tahun.
fisik kaizaki arata saat dewasa dan remaja
Perbedaan fisik Kaizai tidak begitu mencolok setelah kembali menjadi remaja/aminoapps.com

Dilihat dari konsep penceritaan secara keseluruhan, penulisan cerita ReLife terbilang sederhana, terlebih jika dilihat dari jumlah episodenya yang tidak banyak: hanya 13 episode, ditambah 4 episode versi OVA-nya. Namun hal itu tidak membuat ReLife kehilangan daya jelajah cerita yang dimilikinya. Justru ReLife mampu mengeksplor cerita yang sederhana itu menjadi lebih emosional.
Salah satu kekuatan penceritaan ReLife adalah pada jumlah karakternya yang tidak banyak, serta cakupan ruang konflik yang tidak terlalu muluk. Hal itu secara sadar mampu membawa kita untuk terjun ke dalam konflik masing-masing karakter secara mendalam. Di sisi lain, Arata yang ditempatkan sebagai karakter utama, tidak melulu menjadi center of attention di setiap episode. Justru dia yang lebih sering menjadi mediator di antara konflik karakter-karakter yang lain. Dengan kata lain, setiap karakter di ReLife memiliki arc-nya masing-masing.
Seperti yang tersaji di bagian awal cerita. Setelah di episode pertama kita diperkenalkan dengan gambaran umum cerita ReLife, dan (tentu saja) karakter-karakter yang terlibat di dalamnya, episode-episode selanjutnya akan membawa kita kepada pendalaman personal, serta cakupan konflik masing-masing karakter.
Konflik antara Kariu dengan Hishiro, misalnya, yang mendapat porsi besar di bagian awal cerita ReLife (tepatnya di episode ke-2 sampai ke-5). Sepanjang penceritaan tersebut, pembangunan personal Kariu yang pekerja keras namun keras kepala, serta Hishiro yang lemah dalam bersosialisasi, mampu dibangun dengan perlahan, dan tidak terlihat keburu-buruan samasekali di sana. Dari sana kita bisa mengenal mereka layaknya kita menapaki secara bertahap proses-proses mengenal orang lain di kehidupan nyata: slowbut when it reachs a particular point, kita sudah merasa dekat dengan mereka.  
Kemunculan Kaizaki di dalam konflik Kariu-Misuzane, seperti yang sudah dijelaskan, tidak lebih dari seorang penengah. Meski kemunculannya terbilang memiliki porsi yang besar, dan berperan vital dalam twist penyelesaian konflik mereka, perhatian kita (tetap) tidak akan terlepas pada dua karakter tersebut. Selama pengembangan cerita pun kita akan selalu dibuat penasaran bukan oleh peran apa yang akan dimainkan Kaizaki, melainkan oleh pergerakan masing-masing karakter yang sebenarnya sedang berkonflik, atau dalam contoh ini: Kariu dan Misuzane. Ya, selagi konflik masih belum menemukan twist-nya, mereka berdua lah yang sukses menjadi center of attention.
Dari sana, saya melihat semacam terdapat pola penceritaan di dalam ReLife. Pola penceritaan yang sama yang selalu digunakan oleh penulis cerita dalam memperkenalkan karakter-karakter ReLife yang lain. Melalui pola tersebut, proses pendalaman personal mereka terbilang berhasil dikembangkan dengan halus dan perlahan. And as the story goes, pada suatu titik tertentu, dengan sendirinya kita tidak hanya merasa mengenal mereka, namun juga bersimpati kepada mereka.
karakter-karakter relife
Karakter-Karakter ReLife/hdwallpaperim.com

Cerita ReLife yang mengambil latar belakang kehidupan remaja SMA di Jepang benar-benar bisa dinikmati dengan dihadirkannya karakter-karakter yang memiliki pembawaan yang begitu menyenangkan (likeable), dan terasa alami (polos) as a teenager of senior high. Konflik-konflik yang dihadirkan di antara mereka juga sebenarnya hanya berkutat pada hal-hal remeh, jika dilihat dari kacamata orang dewasa.
Seperti saat Kariu menyukai Oga (salah satu karakter lain), namun Oga sama sekali tidak peka dengan keadaan tersebut. Atau saat Kariu merasa emosional saat tidak dianggap oleh Misuzane sebagai saingannya dalam perebutan posisi ketua kelas. Ada juga soal kecemburuan beberapa karakter saat orang-orang yang disukainya dekat dengan orang lain. Dan meski terdapat beberapa scene melow dramatis, semuanya mampu berkembang dan tergambar begitu alami untuk ukuran kehidupan masa-masa SMA, sehingga tidak menjadikan ReLife sebagai anime yang terlalu cengeng dan berlebihan.
Perlu diingat, bahwa beberapa anime cenderung berlebihan dalam menggambarkan karakter-karakternya. Banyak karakter Anime yang digambarkan sebagai seorang bocah SD atau SMP, namun tindakan dan substansi dialog yang mereka bawa terlalu dewasa. Hal itu nyaris tidak ditemukan di ReLife. Purely, dialog dan monolog khas orang dewasa hanya keluar dari karakter-karakter yang notabenenya adalah orang dewasa (Kaizaki, Yoake, dan Onoya). Beberapa scene yang menghadirkan keheranan beberapa karakter soal Arata yang mampu bersikap lebih dewasa daripada yang lain bahkan dihadirkan untuk memperkuat unsur tersebut.
kaizaki arata
Kaizaki Arata menjadi siswa paling peka di kelasnya

Just for your information, anime ReLife sebenarnya adalah hasil adaptasi dari manga dengan judul yang sama. Versi manganya sendiri terdiri dari 222 chapter, sedangkan animenya hanya berdurasi 13 episode ditambah 4 episode dalam versi OVA (total 17 episode). Jika dilihat secara kasar, maka perbandingan jumlah tersebut (222 dengan 17) jauh dari proporsional.
Dan memang betul demikian. Jadi menurut beberapa sumber, disebabkan oleh banyak faktor, terdapat banyak bagian cerita dalam versi manga yang dipercepat/dipotong saat dituangkan ke dalam versi animenya, terutama di empat episode versi OVA. Namun tetap, masing-masing versi cerita masih diakhiri dengan ending yang sama.
Berbicara soal ending cerita ReLife. Agaknya ending ReLife memiliki sedikit kemiripan dengan  ending dari Kimi no Na wa. Namun yang membedakannya adalah sang penulis ReLife agaknya tidak mau meninggalkan jejak cerita yang menggantung. Dengan kata lain, dia menginginkan ReLife benar-benar memberikan kesan end of story kepada para penikmatnya. Hasilnya bisa dilihat di versi manga maupun animenya, dia benar-benar mengakhiri cerita ReLife dengan ending yang sangat gamblang.
Namun jika saya sedikit membandingkan, maka ending ReLife bisa dikatakan tidak se-powerfull ending yang disajikan oleh Kimi no Na Wa, terutama dalam aspek leaving something behind audience’s mind. Kebanyakan orang yang selesai menikmati Kimi no Na Wa, selain akan teringat dengan epic­­­nya seluruh aspek penceritaannya, mereka juga akan selalu membicarakan soal ending Kimi no Na Wa yang tersaji bias.
“Kenapa, sih, endingnya ngegantung kayak gitu? Kejadian apa nih yang bakal dialami sama si Mitsuha sama si Taki setelah mereka saling tegur sapa di ending-nya? Apa mereka bakal menjadi sepasang kekasih?” Dialog-dialog penuh rasa penasaran semacam itu lah yang cenderung akan muncul ketika orang-orang mulai membicarakan Kimi no Na Wa. Dan itu, menurut saya adalah kelebihan Ki mi no Na Wa yang tidak dimiliki oleh ReLife.
Membandingkan kedua anime tersebut pada dasarnya sudah tidak apple to apple sejak awal sebelum memasuki meja produksi. Kimi no Na Wa yang merupakan anime versi movie tentu memiliki konsep penceritaan yang jauh lebih matang dibanding anime serial seperti ReLife. Namun dalam hal ini, saya rasa penulis ReLife seharusnya mampu mengembangkan ending yang berdampak sama dengan Kimi no Na Wa. Dengan begitu, ReLife akan mengalami sensasi serupa dengan Kimi no Na Wa: selalu menjadi bahan pebicaraan meanrik banyak orang. And of course, it will be leaving more impression in audience’s mind.
ending relife
Ending Relife

Sebelum menyaksikan ReLife, saya tidak memiliki referensi secuil pun tentang ceritanya, kecuali satu: romance. Secara otomatis, saya mulai bertanya “Romance seperti apa yang akan tersaji di dalam ReLife?” Pertanyaan itu secara perlahan mulai terjawab setelah meyaksikannya secara utuh. Namun ReLife bukan melulu soal romance, namun juga soal keberanian dalam mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup, yang tanpa sadar akan membawa seseorang kepada titik capaian tertentu dalam hidup. 
ReLife secara sadar akan membawa kita pada ingatan-ingatan masa silam yang pada akhirnya sudah membawa kita pada pencapaian hidup di titik sekarang. Namun di sisi lain, ingatan-ingatan tersebut seringkali bercampur dengan banyak kesia-siaan dalam hidup yang tanpa sadar sudah kita lakukan. Dan setelahnya, kita akan dihadapkan dua pilihan: Terus berkubang pada lumpur penyesalan masa silam, atau memilih bergerak untuk memperbaikinya. 

Sunday, 22 July 2018

Review: Incredibles 2 (2018)

poster incredibles 2
Incredibles 2/impawards.com
14 Juni 2018 barangkali menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh banyak penikmat film animasi, khususnya para penggemar cerita keluarga superhero yang sempat fenomenal 14 tahun silam: Incredibles. Bagaimana tidak? Setelah film pertamanya dirilis tahun 2004, akhirnya Studio Animasi Pixar resmi merilis sekuelnya:  Incredibles 2. Tentu saja dalam waktu tunggu yang sangat panjang, ekspektasi tinggi sangat dibebankan pada sang sutradara, Brad Bird, untuk mampu membawakan film yang kedua ini lebih atau (paling tidak) sama suksesnya dengan film pertamanya.
Pertarungan antar Perspektif
review incredibles 2
Kostum baru Elastigirl/pixar.com
Sebuah usaha radikal dalam mengubah perspektif buruk publik terhadap diri kita, itulah yang kira-kira menjadi sumber konflik dalam film  Incredibles 2. Dalam durasi 30 menit pertama menonton film ini, saya teringat dengan film Hancook (Will Smith) dan Gone Girl (Rosamund Pike dan Ben Affleck), yang kurang lebih menawarkan konflik yang sama: tokoh utama dalam kedua film tersebut sama-sama berusaha merubah perspektif buruk dirinya di mata publik.
Ya, dalam sekuel ini keluarga Bob Parr mendapat citra buruk dari pemerintah dan publik setempat akibat ulah mereka sebagai Superhero. Citra buruk ini diperoleh setelah mereka gagal melumpuhkan perampokan Bank oleh  Underminer, dan ditambah dengan besarnya kerusakan properti publik akibat pertarungan hebat mereka. Mulai dari sana, pemerintah tidak mau lagi menaungi segala jenis aktivitas suerhero. Dengan kata lain, semua aktivitas superhero ditetapkan sebagai tindakan ilegal.
Adalah dua orang pengusaha kaya perusahaan telekomunikasi yang berinisiatif menyelematkan keluarga Bob Parr dari keterpurukan. Mereka menawarkan sebuah ide yang sama sekali belum pernah ada di benak kepala para superhero: sebuah perspektif. Mereka menginginkan agar segala bentuk aktivitas superhero direkam menggunakan kamera kecil buatan mereka, untuk nantinya disebarluaskan ke publik. Sehingga, perspektif yang dimiliki seorang superhero soal aktivitas superhero, yang selama ini tertutup oleh rusaknya gedung-gedung, akan mampu dimunculkan ke hadapan publik. Publik nantinya akan mendapat asupan berupa perspektif yang selama ini tidak pernah mereka peroleh.
Dalam pemilihan konflik di atas, saya rasa Brad Bird berusaha menuangkan kondisi nyata dunia sekarang yang pergerakannya sangat dipengaruhi oleh perspektif media melalui film ini. Secara tidak langsung, dia juga ingin menggambarkan dampak besar yang dapat dihasilkan oleh peran media dalam membentuk perspektif publik. Dan dia berhasil mengeksekusinya dengan baik melalui film ini. Dengan hasil rekaman aksi heroik superhero yang disiarkan melalui berbagai media, secara perlahan para superhero kembali merasakan nikmatnya sebuah empati publik.
Dialog-Dialog yang Dikemas Mendalam
bayi jack jack
Bayi jack-jack dan Bob/pixar.com
Selain sukses mengangkat konflik “perspektif” yang jarang diangkat dalam dunia superhero, Incredibles 2 juga dapat dikategorikan sebagai drama animasi keluarga terbaik Pixar sejauh ini. Alasan pertama tentu saja, karena film ini memiliki tokoh utama yang merupakan pasangan suami-istri dengan tiga orang anak (keluarga besar). Alasan kedua (dan ini yang paling menetukan) adalah ramuan dialog-dialog di antara mereka yang terkemas dengan mendalam. Meski salah satu pasar terbesar film ini adalah anak-anak, namun kebanyakan dialog yang tersaji sangat jelas menyasar kepada orang dewasa.
Salah satu dialog yang menarik adalah dialog antara Bob dan Helen yang berdebat soal jalan mereka menjadi superhero sesaat setelah kebijakan pelarangan atas aktivitas superhero disahkan. Helen mengakui jika dirinya dan keluarganya memang salah karena sudah bertindak di luar hukum, sedangkan Bob bersikukuh bahwa diri mereka tidak salah, hukumnya lah yang harus diubah. Di sana jelas terlihat, masing-masing mereka memiliki cara pandang radikal yang berbeda samasekali.
Dialog yang tidak kalah menarik adalah saat Helen sebagai Elastigirl lebih dipilih oleh kedua pengusaha telekomunikasi ketimbang Bob sebagai Mr. Incredible dalam misi pengembalian nama baik superhero. Ada rasa tidak terima dari Bob di sana, karena didesak untuk menyerahkan peran vitalnya sebagai penyokong utama kehidupan keluarga kepada sang istri. Meski pada awalnya Bob berusaha mempertahankan idelaismenya tersebut, pun pada akhirnya dia mengalah.
Tidak hanya Bob, dan Helen, namun Violiet dan Dash (dua anak tertua mereka) juga berperan penting dalam menjadikan film ini menempati tempat teratas kategori tontonan keluarga tahun 2018. Di adegan saat orang tua mereka berdebat hebat, misalanya, Dash beberapa kali menyela perdebatan mereka dengan pertanyaan dan pernyataan yang mendasar dan polos khas anak-anak, yang kerap kali justru membuat kedua orang tuanya luluh dan pada akhirnya menjadikan salah pihak mau mengalah.
Terlebih lagi Violet, dia memiliki peranan yang lebih penting. Brad Bird memutuskan untuk memasukkan satu elemen penuh konflik yang dikhususkan kepada Violet. Apalagi kalau bukan masalah cinta monyetnya dengan laki-laki yang dia sukai di sekolah. Usaha-usaha yang diperlihatkan Bob dalam membantu Violet menyelesaikan masalah putrinya di film ini merupakan langkah cerdas Brad Bird dalam usahanya menghadirkan suasana kekeluargaan yang lebih kental di film ini. 
Jika dibanding dengan film yang pertama, unsur drama keluarga dalam film yang kedua ini jelas lebih kuat. Selain disebabkan konflik-konflik di atas, hadirnya si bayi Jack-jack juga menjadi sebab yang lain. Lagi-lagi di sini berkat peran kuat Bob di film ini. Disebabkan istrinya harus bekerja di luar rumah, maka Bob lah yang bertanggungjawab merawat si Jack-jack. Adegan-adegan yang dipenuhi dengan jerih payah seorang ayah dalam merawat bayinya (dan juga kakak-kakanya) memiliki daya tarik emosional yang kuat terhadap penonton, terutama bagi mereka yang mulai beranjak remaja, dan terlebih lagi kepada mereka yang sudah menjadi seorang ayah.
Hal menarik yang lain dalam film ini adalah, Brad Bird tidak serta-merta menghilangkan secara penuh peran Helen sebagai seorang ibu dalam hal merawat anak-anaknya, terutama Jack-jack. Meski selalu berada di luar rumah. Dalam salah satu adegan, saat dia selesai bertugas dengan kostum Elastigirlnya, sambil beristirahat di sebuah hotel, dia menghubungi Bob dan bertanya keadaan anak-anak mereka. Dan layaknya para ibu di dunia ini, ada satu hal yang sangat dia idamkan di tengah kesibukannya: Ingin menjadi orang pertama yang melihat kemunculan kekuatan super si Jack-Jack. Ya, Helen tetap konsisten dengan karakternya yang kuat: seorang ibu yang selalu mengkhawatirkan anak-anaknya.
Di adegan yang lain, tepatnya di bagian akhir film saat satu keluarga superhero ini berkumpul (terasuk si bayi Jack-jack di dalamnya) hendak bertarung melawan villain, Bob yang saat itu membawa si bayi Jack-jack dalam pertarungan memberitahukan Helen, bahwa bayi mereka sudah mampu mengeluarkan kekuatan super. Perasaan Helen campur aduk saat mendengar berita itu, antara marah, menyesal, tapi sekaligus bahagia. Dia tentu bahagia dengan kabar tersebut, namun sekaligus marah, karena Bob tidak memberitahukan berita tersebut dengan segera. Serta tentu saja menyesal, sebab dia sudah kehilangan salah satu momen terpenting di dalam hidupnya: Tidak menjadi orang pertama yang melihat fase penting perkembangan anaknya.
Karakter Villain yang Lemah
villain screen slaver
Screen Slaver/pixar.com
Sama dengan film yang pertama, karakter villain di film yang kedua ini muncul akibat kekecewaannya terhadap superhero. Di film ini, sang villain kecewa lantaran superhero yang sudah menjadi pelindung keluarganya dari waktu ke waktu justru absen ketika kedua orangtuanya dirampok dan akhirnya dibunuh oleh penjahat. Sebuah alarm khusus yang biasa mereka gunakan untuk memanggil superhero, entah mengapa tidak berhasil menghadirkan mereka. Dari sana dia berkesimpulan, bahwa kehadiran superhero di dunia ini justru membuat orang-orang ketergantungan. Dan membuat mereka lemah. Oleh karena itu, superhero harus dimusnahkan.
Dengan menggunakan kecerdasannya dalam bidang teknologi, dia menghukum orang-orang yang terlalu bergantung kepada superhero dengan kekuatan menghipnotis melalui layar monitor. Dia menyembunyikan identitas aslinya dengan topeng Screen Slaver. Meski kekuatan menghipnotis sudah terlalu biasa di dalam dunia superhero, namun metode yang dia gunakan (yakni melalui layar monitor) menjadi sesuatu yang menurut saya baru. Selain itu, motivasinya dalam menjadi seorang villain cukup menarik, dan bisa menjadi bahan refleksi orang-orang yang sudah terlalu bergantung kepada orang/sesuatu yang lain, gadget misalnya.
Namun saat film sudah memasuki twist, yakni saat secara perlahan Helen di dalam kostum Elastisgirlnya berusaha mengungkap siapa orang di balik topeng screen slaver, tidak ada kejutan yang berarti di sana. Jalan cerita setelahnya sudah sangat mudah diprediksi, siapa yang menjadi apa, dan bagaimana cerita akan diakhiri. Dengan kata lain, tidak ada perkembangan kualitas twist yang berarti di film yang kedua ini jika dibandingkan dengan film yang pertama. Dengan kata lain, dalam hal ini, saya rasa Brad Bird belum mampu memaksimalkan waktu tunggunya yang selama 14 tahun itu.
Ketimbang fokus kepada konflik antara superhero melawan penjahatsaya justru lebih terpuaskan dengan drama keluarga yang tersaji apik di film ini. Saya rasa, saya tidak terlalu mempermasalahkan andaikan film ini lebih dikhususkan lagi menjadi film drama keluarga superhero. Namun, toh tetap saja, bahwa  Incredibles 2 adalah film superhero anak-anak. Dan di mana ada superhero, maka selalu ada karakter villain yang harus dikalahkan.
Tontonan Animasi Terbaik Keluarga 2018
review incredibles 2 elastigirl
Peran utama menjadi milik Elastigirl/pixar.com
Meski pertarungan perspektif yang Brad Bird sajikan bukan merupakan hal yang benar-benar baru di dalam dunia superhero (Will Smith dalam Film Hancock pernah melakukannya), namun dia berhasil menyajikannya di waktu dan kondisi yang lebih tepat. Maksudnya,  Incredibles 2 dirilis di saat kondisi publik dunia secara umum sangat mudah dipengaruhi oleh perspektif-perspektif lain di luar mereka, terutama perspektif-perspektif yang banyak tampil di depan layar monitor (media). Oleh karena itu, saya rasa Brad Bird mampu menggunakan  Incredibles 2 sebagai senjata ampuh di waktu dan kondisi yang tepat.
Tidak banyak ditemukannya unsur kebaruan dalam twist di film ini memang patut disayangkan, namun itu hanya sedikit menurunkan kualitas penilaian film  Incredibles 2. Film ini tetap layak dinobatkan sebagai salah satu film animasi bergenre drama, aksi, dan keluarga terbaik di tahun 2018. Kualitas animasi yang disajikan oleh Pixar sangat detail, sampai-sampai helaian rambut masing-masing karakter sampai detail-detail pertarungan yang tersaji mampu teranimasikan dengan rapi. Ditambah adegan-adegan aksi para karakternya yang selalu membuat tatapan mata siapapun yang menontonnya tidak akan terlaihkan dari layar bioskop.
Namun yang lebih mengena daripada itu, unsur drama yang tersaji di dalamnya bisa menjadi bahan refleksi penting, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Melalui film ini, para orang dewasa barangkali tergugah untuk lebih bekerja keras menggunakan akal dan perasaan dalam menghadapi masalah apapun, terutama masalah keluarga. Dan untuk anak-anak, barangkali akan banyak pertanyaan kritis yang muncul dari mulut mereka tentang peran seorang ayah dan ibu di dalam sebuah keluarga. Karena (mungkin) ini pertama kalinya bagi mereka melihat seorang ayah yang justru lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bukan sang ibu.   

Friday, 8 June 2018

Para Yahudi dan Kepedulian Mereka Terhadap Rakyat Palestina

dukungan yahudi kepada rakyat palestina
Aksi protes atas penembakan Razan al-Najjar/fanspage Jews Voice for Peace

Laporan singkat di atas saya ambil dari salah satu grup fanspage facebook milik salah satu organisasi kemanusiaan yang fokus dalam membela dan memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina yang semakin lama semakin diberengus oleh para Zionis.
Di sana dilaporkan, telah terjadi penembakan oleh tentara Zionis kepada Razan al-Najjar, seorang relawan tenaga medis Palentina yang sedang bertugas di perbatasan Palestina-Israel. Lebih jauh lagi, mereka menyerukan agar seluruh dunia berani bersuara dan menunjukkan keberpihakannya pada pembebasan Palestina dari cengkraman Zionis.
Laporan singkat tersebut sudah sangat jelas menggambarkan salah satu bentuk kesewenang-wenangan tentara Zionis terhadap hak-hak rakyat Palestina. Namun dalam tulisan ini saya tidak ingin berfokus pada isi dari laporan singkat tersebut, melainkan saya ingin fokus kepada subjek (siapa) yang menyuarakan suara tersebut melalui laman fanspage facebook di atas.
Mereka menami diri: Jewish Voice for Peace (JVP). Lalu siapa dan apa tujuan dari JVP ini?
dukungan terhadap razan dari komunitas yahudi
Dukungan terhadap Razan/fanspage Jews for Peace

Sesuai dengan namanya, JVP adalah sebuah organisasi yang beranggotakan orang-orang Yahudi di Amerika Serikat yang secara getol menyuarakan pembelaan mereka terhadap hak-hak rakyat Palestina. Mereka melakukan pembelaan dalam berbagai bentuk, seperti publikasi paper, penggalangan dana, kampanye-kampanye perdamaian melalui media sosial, dan tentu saja aksi-aksi turun ke jalan melakukan aksi protes.
Iya, yang ingin saya tekankan di sini, para anggota JVP bukanlah terdiri dari orang Islam, Kristen, atau Nasrani, melainkan orang-orang Yahudi. Dengan kata lain, mereka adalah orang-orang Yahudi yang dengan bangga menyuarakan keberpihakan mereka terhadap Palestina.
Stereotip Negatif Terhadap Yahudi
Sudah bukan barang baru lagi, bahwa Yahudi sudah terlanjur mendapat stereotip negatif, buram, hina, di masyarakat kita yang mayoritas beragam Islam. Narasi yang paling sering dikemukakan ke permukaan adalah bahwa Kaum Yahudi adalah musuh Islam yang harus dilawan karena mereka menginginkan berdirinya negara Yahudi dengan cara merebut paksa tanah Palestina dari tangan orang-orang Islam di sana. Kurang lebih begitu narasinya.
Salah satu alasan mendasar mengapa stereotip-stereotip tersebut mudah tersebar di masyarakat kita adalah akibat maraknya pemberitaan media-media soal Yahudi, terutama jika sudah menyangkut konflik Palestina-Israel, yang sangat tidak berimbang.
Maksudnya, banyak media yang kerap kali lebih memilih menggunakan term “yahudi” ketimbang "zionisme" dalam pembingkaian berita negatif soal Yahudi di tanah Pelastina. Akibatnya para pembaca kerap kali menyimpulkan secara sederhana tanpa proses pikir yang sabar, bahwa Yahudi adalah sekumpulan orang-orang jahat yang harus dilawan akibat merebut tanah Palestina dari tangan orang-orang Islam. Dan selanjutnya, munculah kesimpulan bahwa apa yang diberitakan soal Yahudi tersebut, merupakan representasi dari semua orang Yahudi, tanpa terkecuali. 
Padahal kalau dicermati, khusus dalam pemberitaan atau opini soal konflik Palestina-Israel, terdapat tiga term penting yang harus digunakan oleh media, serta harus dipahami maknanya oleh masyarakat secara luas, sehingga akan tercipta pola pikir (mindset) yang lebih lurus dalam menyikapi konflik Palestina-Israel ini. Ketiga term tersebut yakni Yahudi, Zionisme, dan Judaisme.
Perbedaan Mendasar Yahudi, Zionisme, dengan Judaisme 
Yahudi sebenarnya adalah nama sebuah kelompok masyarakat, umat, atau gampanganya suku. Sama halnya seperti suku-suku yang lain yang ada di seluruh dunia, mereka sangat majemuk, pun dalam soal kepercayaan. Orang-orang Yahudi ada yang beragama Islam, Kristen, Nasrani, Judaisme, dan bahkan atheis. 

Judaisme adalah agama yang dianut oleh mayoritas orang-orang Yahudi.
Keduanya tentu sangat berbeda dengan zionisme. Nah bagian ini yang perlu diperhatikan. Zionisme sendiri sederhananya adalah sebuah ideologi politik yang dianut dan dideklarasikan oleh beberapa tokoh Yahudi yang menginginkan berdirinya sebuah negara khusus Yahudi di tanah Yerussalem. Orang-orangnya disebut Zionis. 
Nah, orang-orang Yahudi yang berpaham Zionis inilah yang selama ini melakukan kesewenang-wenangan terhadap rakyat Palestina. Orang-orang Yahudi yang berpaham Zionis ini lah yang patut dijadikan musuh kita bersama, dan bukan Yahudi secara keseluruhan.
Klaim bahwa banyak orang Yahudi yang mendukung gerakan zionisme memang benar, namun yang belum banyak diketahui oleh masyarakat kita secara luas (sekali lagi) adalah, banyak pula yang menentangnya. Salah satu contohnya sudah saya jelaskan di awal tulisan ini: orang-orang Yahudi yang tergabung dalam Jewish Voice For Peace (JVP).
b'tselem organisasi pembela pembebasan palestina
Halaman depan situs B'Tselem/btselem.org

JVP tidak sendirian dalam hal ini, ada B’Tselem, sebuah organisasi yang bermarkas di Israel yang juga kerap melakukan seruan-seruan yang sama. Mereka kerap kali memublikasikan artikel-artikel singkat soal pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan oleh tentara-tentara zionis terhadap warga Pelestina. 
Selain mereka, ada juga perkumpulan orang-orang Yahudi konservatif, yang menamai diri mereka: Neturei Karta, dengan tagline yang begitu jelas keberpihakan mereka: “Jews United Againts Zionism”. 

Satu lagi yang (mungkin) paling unik darisudut pandang orang Indonesia secara umum, ada Maki, Partai Komunisnya Israel, yang juga tidak kalah keras dalam menentang pendudukan para Zionis atas tanah Palestina. 
seorang yahudi membakar bendera israel
Seorang Yahudi membakar bendera Israel/nkusa.org

Selain yang tergabung dalam organisasi-organisasi yang sudah disebutkan, sebenarnya masih banyak orang Yahudi yang menentang Zionisme, atau lebih spesifik: menentang pembentukan negara Yahudi di tanah Palestina. Baik mereka yang bergerak secara individu lewat hati nurani, maupun mereka yang tergabung dalam organisasi-organisasi lain, jumlah mereka sebenarnya cukup banyak.
Namun sekali lagi, banyak media kita yang kurang berimbang dalam membingkai berita atau opini soal Yahudi. Padahal kekuatan para media (terutama para media arus utama), seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, sangat diperlukan guna membangun, mengubah, memperluas pola pikir (mindset) masyarakat dalam menyikap suatu fenomena. 
Saya rasa pemahaman tentang perbedaan Yahudi sebagai sebuah kelompok (suku), Yahudi (Judaisme) sebagai agama, dan zionisme sebagai ideologi politik, menjadi sangat penting untuk dipahami oleh kita bersama. Di sisi lain, saya sadar betul, bahwa pemahaman-pemahaman semacam itu tidak akan berpengaruh banyak bagi rampungnya konflik Palestina-Israel yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Namun paling tidak, hal tersebut mampu memperluas pemahaman kita (sebagai masyarakat umum) terhadap siapa yang sebenarnya berkonflik, dan siapa yang sepatutnya disalahkan dalam pendudukan tanah Palestina. Sehingga ke depannya kita bisa lebih tepat sasaran dalam menentukan keberpihakan kita.

Monday, 23 April 2018

Gerakan Anti-Pariwisata, Sebuah Seruan Yang Patut Didengar

gerakan anti pariwisata
Aksi protes warga para warga lokal/france24.com

Semakin majunya dunia pariwisata di era sekarang bisa diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, kemajuan tersebut mampu mengangkat taraf ekonomi banyak pihak, seperti masyarakat yang tinggal di sekitar suatu destinasi wisata, dan dalam level yang lebih tinggi, negara juga akan meraup banyak pundi rupiah dari sana. Namun di sisi yang bersebrangan, kemajuan tersebut juga berpotensi menjadi sumber kerusakan lingkungan.
Jika kita melihat gunung Semeru sekarang, maka kondisinya tidak seindah dan sebersih dengan kondisinya beberapa tahun silam, tepatnya sebelum kegiatan naik gunung menjadi kegiatan populer seperti sekarang. Atau Pulau Bali,yang semakin hari semakin sesak oleh banyak pembangunan infrastruktur guna menunjang pelayanan terhadap ribuah, bahkanjutaan wisatayan lokal maupun asing yang datang tiap tahunnya.
Jika membandingkan kedua contoh di atas, nampaknya kondisi lingkungan Gunung Semeru belum separah kondisi lingkungan di Pulau Bali. Dengan semakin berjubelnya jumlah wisatawan di Bali, ada sejumlah pihak yang memutuskan untuk membangun banyak hunian baru dengan cara yang kontroversial: mereklamasi Teluk Benoa.
Dampaknya sangat mudah diprediksi, banyak pihak di luar mereka yang menilai tindakan tersebut dapat menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar Teluk Benoa. Akibatnya, aksi-aksi penolakan pun gencar dilakukan. Aksi penolakan paling masif berasal dari Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBali). Namun sampai saat ini, proses reklamasi masih terus berlanjut.
Tidak hanya di Indonesia, gerakan-gerakan yang gencar mengkritik bisnis pariwisata yang berdampak pada semakin rusaknya lingkungan juga terjadi di luar negeri. Di Barcelona, Spanyol, contohnya. Di pertangahan tahun lalu, di sana terjadi aksi penolakan terhadap pariwisata yang dilakukan oleh sejumlah orang. Mereka beramai-ramai mendatangi bus wisata dan menyemprotkan piloks yang bertuliskan “pariwisata membunuh kawasan ini.”
Hampir senasib dengan Pulau Bali dan Barcelona. Di Venesia, salah satu kota paling historis di dunia, juga harus berhadapan dengan massa yang menolak kegiatan pariwisata. Gerakan tersebut disinyalir akibat sudah banyak wisatawan yang melanggar banyak aturaan di tempat-tempat bersejarah di sana. Selain itu, semakin tidak terjangkaunya harga propersi di sana oleh warga loka akibat semakin maraknya wisatawan juga menjadi alasan untuk melakukan aksi protes. 
Warga Lokal, adalah Tuan Rumah yang Wajib Dihormati
Sudah menjadi hukum alam, bahwa di setiap pembangunan pasti ada sesuatu lain yang harus tergusur. Hukum tersebut berlaku pula dalam dunia pariwisata. Yang harus dikorbankan oleh semakin majunya dunia pariwisata biasanya adalah masyarakat setempat, baik itu dari segi ekonomi maupun kearifan lokal.
Dalam jangka pendek, majunya dunia pariwisata mampu mendorong kemajuan kondisi ekonomi masyarakat setempat. Sekali lagi itu hanya keuntungan yang didapat dalam jangka pendek. Sedangkan dalam jangka panjang, jika mau melakukan perhitungan matematis, dan dipandang melalui sudut pandang yang lebih kritis, maka kerugian lah yang justru akan didapati oleh mereka.
Pulau Bali bisa menjadi contoh terjelas dari kerugian-kerugian di atas. Dilansir dari worldcrunch.com, Pulau Bali dinilai sudah terancam dampak buruk dari mass tourism (gerakan berwisata masal) yang terakumulasi tiap tahunnya. Hal tersebut berimplikasi pada semakin meningginya tingkat konsumsi orang-orang di Bali, serta semakin terasanya bencana-bencana ekologis yang (biasanya) banyak dirasakan oleh warga asli Bali.
Pada dasarnya, masyarakat setempat tidak mempermasalahkan dengan adanya pengadaan tempat wisata di daerah meraka, dengan satu syarat: pengadaan itu harus memberikan dampak baik bagi mereka dalam jangka waktu yang relatif panjang. Namun jika yang terjadi justru hanya memberikan keuntungan melimpah sesaat, serta dinilai dapat merusak kearifan lokal dalam jangka panjang, agaknya langkah tersebut harus direm.
Kasus di Bali, Gunung Semeru, Venesia, dan Barcelona di atas hanya segelintir contoh kasus kerugian yang dialami masyarakat setempat akibat dampak buruk majunya dunia pariwisata. Melihat dampak buruk yang makin meluas, nampaknya kampanye-kampanye terkait isu kerusakan lingkungan akibat pariwisata, baik berupa kampanye langsung maupun melalui dunia maya harus terus dilakukan tanpa jeda waktu istirahat.
Pemahaman-pemahaman masyarakat setempat tentang vitalnya peran lingkungan dan kearifan lokal bagi keberlangsungan hidup dalam jangka panjang juga harus semakin masif digencarkan.
Vitalnya Kesadaran Pariwisata  
Jika diperhatikan, salah satu masalah pelik dari semua kasus di atas, dan kasus-kasus terkait pariwisata yang lain adalah masih lemahnya kesadaran berpariwisata yang baik oleh wisatawan dan para pengelola tempat wisata itu sendiri.
Para pengelola tempat wisata seharusnya melakukan banyak perundingan dengan masyarakat setempat, baik sebelum dan sesudah tempat wisata berdiri. Dilanjutkan dengan adanya perundingan yang berkelanjutan terkait dengan perkembangan tempat wisata tersebut. Hal tersebut menjadi vital, karena pada dasarnya masyarakat setempat adalah tuan rumah yang patut paling diutamakan dalam mengambil kebijakan apa pun.
Selain itu, peran yang tidak kalah penting juga dipegang para wisatawan itu sendiri dalam menjaga lingkungan di sekitar tempat wisata. Selain peraturan-peraturan tertulis, para wisatawan sudah sepatutnya menghargai kearifan lokal yang berlaku di masyarakat yang tinggal di sekitar daerah wisata tersebut.
Aksi-aksi penolakan pariwisata oleh sejumlah pihak yang tejadi di Barcelona dan Venesia, serta aksi penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa di Bali seharusnya sudah cukup menjadi pembelajaran bagi kita: bahwa ada sesuatu yang salah dalam pengelolaan pariwisata selama ini. Jika hal tersebut hanya dianggap sebagai angin lewat, maka tinggal menunggu saja aksi-aksi penolakan yang lebih masif akan segera meledak.

Friday, 9 March 2018

Mendoakan Kehancuran Amerika Serikat: Sebuah Kebiasaan yang Tidak Sehat

kebakaran california 2017
Kebakaran hutan di California/edition.cnn.com

Periode Desember tahun lalu di Amerika Serikat, tepatnya di Negara Bagian California, dilanda bencana kebakaran hutan hebat. Berbagai media on-line berlomba memberitakan kejadian tersebut. Tidak sedikit pula di antara mereka yang menilai, bahwa kebakaran hutan yang mulai merambat sejak 4 Desember itu adalah kebakaran terdahsyat sepanjang sejarah California, bahkan Amerika Serikat. Kebakaran tersebut sudah memaksa ratusan ribu warga mengungsi ke tempat yang lebih aman, serta ribuan personel pemadam kebakaran untuk turun tangan.
Jika dikaitkan dengan sebuah kejadian lain yang sedang panas pada saat itu, maka kebakaran hebat tersebut terjadi tidak lama setelah Donald Trump menyatakan pernyataan yang sukses memicu banyak protes dari masyarakat global: Mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Akibatnya, banyak pihak yang mengaitkan kebakaran hutan di California adalah perpanjangan tangan (red: azab) dari Allah atas sikap dan pernyataan Donal Trump tersebut.
Komentar-komentar seperti, “Amin, amin, amin Ya Rabbal Alamin, semoga besok giliran rambut Donald yang kebakaran habis.”, “Azabnya dikredit. Setelah Trump kelu lidah, negaranya akan dibumihanguskan.”, “Semoga negerimu luluh lantak, Wahai Donal Bebek.”, “Itu adalah azab dari Allah.”, dan komentar-komentar yang bernadakan mensyukuri bencana tersebut yang lain sangat mudah ditemukan di kolom komentar berita kebakaran tersebut. Hanya secuil komentar yang menunjukkan rasa bela sungkawa terhadap kejadian tersebut.
Miris. Itulah yang seketika saya rasakan saat membaca komentar-komentar yang kebanyakan justru didominasi oleh orang-orang yang menginginkan agar bencana tersebut semakin meluas, dan bahkan dalam level yang paling ekstrim: menginginkan agar Amerika Serikat (sebagai sebuah negara) hancur sehancur-hancurnya.
Saya sedikit memahami luapan amarah yang dirasakan mereka terhadap pernyataan Donal Trump tersebut. Namun, apakah sikap menginginkan, mendoakan sebuah negara hancur sehancur-hancurnya akibat ulah seorang individu saja (dalam kasus ini Donald Trump) adalah sikap yang dewasa, sikap yang waras? Saya rasa tidak.
Melihat banyaknya diksi khas Islam di banyak kolom komentar di mana berita kebakaran California dimuat, membuat saya lebih miris. Miris, karena dari sana saya bisa menilai (meski tidak sepenuhnya benar) bahwa orang-orang yang mensyukuri terbakarnya hutan di California serta menginginkan agar Amerika Serikat sebagai sebuah negara hancur adalah mereka yang beragama Islam.
Mereka agaknya belum tahu atau tidak mau tahu, bahwa di Amerika Serikat sana juga banyak bermukim orang Islam, saudara-saudara seiman mereka. Mereka sudah mendeklarasikan, bahwa Amerika Serikat adalah tanah air mereka. Sebagai informasi tambahan, Islam adalah agama dengan pemeluk terbanyak ketiga di Amerika Serikat, setelah Kristen dan Yahudi. Dan tiap waktunya jumlah pemeluk Islam terus bertambah secara signifikan. Dan Islam sudah memiliki sejarah panjang di tanah Amerika Serikat, sejak meletusnya konflik saudara di negara-negara Timur-Tengah.
Dengan jumlah yang terus meningkat, tidak menutup kemungkinan, bahwa di antara sekian ratus ribu pengungsi akibat bencana kebakaran tersebut, banyak yang beragama Islam. Serta tidak menutup kemungkinan pula di antara mereka banyak yang terdiri dari anak-anak dan wanita. Jika sudah begini, maka menginginkan kehancuran Amerika Serikat sebagai sebuah negara sama dengan menginginkan kehancuran Islam itu sendiri yang sejatinya sudah menjadi bagian dari sejarah panjang Amerika Serikat sebagai sebuah negara.
Kaum muslim di Amerika Serikat, terutama di California, barangkali akan sangat kecewa jika mereka mengetahui banyak komentar yang justru menjatuhkan semangat mereka di tengah bencana yang sedang mereka alami. Dan mereka akan lebih kecewa jika mereka mengetahui bahwa yang berkomentar justru adalah saudara-saudara seiman mereka.
Jika memang tidak sepakat, atau bahkan membenci pernyataan-pernyataan atau kebijakan-kebijakan politik Donald Trump, maka timpakanlah kekesalahan kalian cukup kepadanya dan paling banter kepada orang-orang pemerintahan Amerika, jangan kepada Amerika Serikat secara keseluruhan. Terlebih sampai mengutuki dan mendoakan tanah Amerika Serikat agar hancur-sehancurnya.
Perbanyak membaca artikel dan buku terkait konflik Palestina-Israel, mengikuti kajian-kajian ilmiah terkait hal tersebut, mengikuti aksi-aksi penolakan terhadap kebiajakan-kebijakan politik Amerika Serikat, adalah beberapa cara paling konkrit agar dapat memahami akar permasalahan dari peran Amerika Serikat dalam konflik Palestina-Israel. 
Atau jika kesemua hal tersebut dinilai terlalu membuang banyak waktu, setidaknya, perbanyaklah berdoa, tidak hanya untuk rakyat Palestina, tetapi juga kepada rakyat Amerika Serikat (terutama para Muslim), agar tanah airnya tersebut tidak lagi menjadi bahan caci-maki rakyat dunia secara terus-menerus akibat sikap kepala negara mereka dan kelompok-kelompok pendukungnya. 
Salam...
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html